Kamis , 29 Oktober 2020

Wawu Tsamaniyah

Ada satu pertanyaan yang cukup mengusik hati saya sejak lama, yaitu:


“Mengapa dalam surat Az-Zumar ayat 71 tatkala Allah menjelaskan tentang keadaan orang-orang kafir Allah menyebutkannya dengan ungkapan:

حَتَّىٰ إِذَا جَاءُوهَا فُتِحَتْ أَبْوَابُهَا 

“Orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahannam berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya” (QS. Az-Zumar: 71)

tanpa menggunakan huruf wawu, namun saat menjelaskan keadaan orang beriman pada ayat 73-nya menggunakan huruf wawu?”

حَتَّىٰ إِذَا جَاءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَابُهَا 

“Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan dibawa ke dalam surga berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu dan pintu-pintunya telah terbuka(QS. Az-Zumar: 73)

Beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah tulisan yang ditulis oleh Haitsam Al-Huwayni pada Fanspage resminya terkait hal tersebut, jawaban beliau membuat saya cukup terkagum dan membuat saya semakin yakin akan kebenaran kalamullah.

Betapa banyak potongan-potongan ayat yang menunjukkan kefasihan tingkat tinggi akan suatu ungkapan dalam Al-Qur’an yang membuat takjub para ahli bahasa dan juga melahirkan kekaguman dari mereka yang menyibukan diri melakukan penelitian bahasa Arab yang fasih beserta kedalaman sastranya, diantara hal tersebut adalah apa yang diistilahkan oleh para ulama dengan sebutan wawu tsamaniyah.

Berikut ini adalah coretan ringkas tentang wawu tsamaniyah yang kami tuliskan agar kiranya kita memahami dan meyakini bahwa andaikata Al-Qur’an yang ada di tengah-tengah kita sekarang ini adalah hasil karangan manusia, buatan seseorang, maka tidak mungkin ia datang kepada kita dengan perkara yang sangat detail seperti ini, dimana Allah menantang setiap orang yang meragukannya untuk mendatangkan ayat yang semisalnya.

وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلافًا كَثِيرًا

“Kalaulah sekiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. An-Nisa: 82)

Wawu tsamaniyah terdiri dari dua kata; yaitu “wawu” yang berarti huruf wawu; huruf ke 26 dari urutan huruf hijaiyah, dan yang kedua adalah kata “tsamaniyah” yang berarti angka “delapan”.

Wawu tsamaniyah, ia dinamakan demikian karena ia datang setelah penyebutan tujuh hal yang disebutkan secara berturut-turut tanpa dijeda oleh huruf ‘athaf kemudian tatkala penyebutan yang kedelapan, ia disebutkan bersama dengan huruf wawu.

Misalnya, kalau kita katakan:

محمد عالم، فاهم، راسخ، تقي، نقي، زكي، ورع، وزاهد

Muhammad adalah seorang yang (1) berilmu, (2) mudah faham, (3) kokoh, (4) bertakwa, (5) bersih hatinya, (6) suci, (7) wara’ dan (8) zuhud

maka ini adalah uslub yang tepat dan fasih, digunakan oleh orang-orang arab.

Sebagai contoh pertama dari pembahasan ini, perhatikan firman Allah berikut:

التَّائِبُونَ الْعَابِدُونَ الْحَامِدُونَ السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدُونَ الْآمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنكَرِ

“Mereka itu adalah orang-orang (1) yang bertaubat, (2) yang beribadat, (3) yang memuji, (4) yang melawat, (5) yang ruku’, (6) yang sujud, (7) yang menyuruh berbuat ma’ruf dan (8) mencegah berbuat munkar.” (QS. At-Taubah: 112)

Contoh lainnya, firman Allah Ta’ala:

عَسَىٰ رَبُّهُ إِن طَلَّقَكُنَّ أَن يُبْدِلَهُ أَزْوَاجًا خَيْرًا مِّنكُنَّ مُسْلِمَاتٍ مُّؤْمِنَاتٍ قَانِتَاتٍ تَائِبَاتٍ عَابِدَاتٍ سَائِحَاتٍ ثَيِّبَاتٍ وَأَبْكَارًا

“Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan isteri yang lebih baik daripada kamu, (1) yang patuh, (2) yang beriman, (3) yang taat, (4) yang bertaubat, (5) yang mengerjakan ibadat, (6) yang berpuasa, (7) yang janda dan (8) yang perawan.” (QS. At-Tahrim: 5)

Catatan; huruf wawu ini selalu ada pada penyebutan angka delapan, tidak angka yang lain.

Mari kita simak kembali firman Allah yang lainnya;

سَيَقُولُونَ ثَلَاثَةٌ رَّابِعُهُمْ كَلْبُهُمْ وَيَقُولُونَ خَمْسَةٌ سَادِسُهُمْ كَلْبُهُمْ رَجْمًا بِالْغَيْبِ ۖ وَيَقُولُونَ سَبْعَةٌ وَثَامِنُهُمْ كَلْبُهُمْ

“Nanti (ada orang yang akan) mengatakan (jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan: “(jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam adalah anjing nya”, sebagai terkaan terhadap barang yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan: “(jumlah mereka) tujuh orang,dan yang ke delapan adalah anjingnya”” (QS. At-Tahrim: 5)

Perhatikan! Pada lafazh رابعهم (yang keempat) Allah tidak meng-‘athaf-kannya dengan wawu, demikian juga pada lafazh سادسهم (yang keenam) juga tak diathaf dengan wawu. Tapi pada lafazh ثامنهم (yang kedelapan) Allah meng-‘athaf-kannya dengan huruf wawu!

Contoh lain dalam hal ini adalah firman Allah dalam surat Al-Haaqqah:

سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومًا

“yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus” (QS. Al-Haaqqah: 7)

dan yang paling menakjubkan wawu tsamaniyah ini terdapat pada firman Allah dalam surat Az-Zumar:

وَسِيقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَىٰ جَهَنَّمَ زُمَرًا ۖ حَتَّىٰ إِذَا جَاءُوهَا فُتِحَتْ أَبْوَابُهَا

“Orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahannam berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya” (QS. Az-Zumar: 71)

Ayat ke 71 dari surat Az-Zumar diatas menjelaskan keadaan orang-orang kafir saat mereka memasuki pintu-pintu neraka. Kemudian pada ayat 73 Allah menyebutkan keadaan orang-orang beriman saat memasuki pintu-pintu surga,;

وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا ۖ حَتَّىٰ إِذَا جَاءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَابُهَا

“Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan dibawa ke dalam surga berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu dan pintu-pintunya telah terbuka(QS. Az-Zumar: 73)

Perhatikan dengan seksama huruf wawu pada ayat diatas!

Pada ayat 71 tidak ada huruf wawu yang menyertai kata أبواب (pintu-pintu) karena telah kita ketahui bersama bahwa jumlah pintu neraka ada tujuh, adapun pada ayat ke 73 disana ada huruf wawu yang menyertai kata أبواب (pintu-pintu) karena telah kita ketahui bersama bahwa jumlah pintu surga ada delapan.

Subhanallah subhanallahi rabbil ‘azhiim

____
Heri Suheri, 7 Ramadhan 1441 H/29 April 2020 00.09 PM.

Diterjemahkan secara bebas  dari: https://www.facebook.com/Haitham.Alheweny.Official.Page/posts/3004973446263735 dengan beberapa penambahan dan penyesuaian

Tentang Heri Suheri

Founder Qothrunnadaa Learning Centre. Alumni Ma'had Ihyaa Assunnah Tasikmalaya jurusan TBA (Takhassus Bahasa Arab) tahun 2009 dan Ma'had 'Aly Assunnah Medan (sekarang STAI As-Sunnah) tahun 2012.Berpengalaman lebih dari sepuluh tahun mengajar bahasa Arab bagi pembelajar pemula.Semoga Allah mengampuninya dan mengampuni kedua orang tuanya. Amiin

Baca Juga Artikel Berikut

Dauroh Dasar-Dasar Ilmu Nahwu & Sharaf

Mengawali tahun 2020 ini insyaallah Qothrunnadaa Learning Centre akan mengadakan Dauroh Nahwu Sharaf Dua Hari yang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.