Senin , 18 Oktober 2021

Wawu Tsamaniyah

Wawu Tsamaniyah adalah huruf yang diperselisihkan eksistensinya oleh para ulama, sebagian ada yang menetapkan dan sebagian lainnya menafikan. Melalui tulisan ini pembaca akan diajak untuk merenungi bahwa betapa banyak potongan-potongan ayat yang menunjukkan kefasihan tingkat tinggi akan suatu ungkapan dalam Al-Qur’an yang membuat takjub para ahli bahasa dan juga melahirkan kekaguman dari mereka yang menyibukan diri melakukan penelitian bahasa Arab yang fasih beserta kedalaman sastranya, diantara hal tersebut adalah apa yang diistilahkan oleh para ulama dengan sebutan wawu tsamaniyah.

Berikut ini adalah coretan ringkas tentang wawu tsamaniyah yang kami tuliskan agar kiranya para pembaca dapat memahami dan lebih mengokohkan keyakinan bahwa andaikata Al-Qur’an yang ada di tengah-tengah kita sekarang ini adalah hasil karangan manusia, buatan seseorang, maka tidak mungkin ia datang kepada kita dengan perkara yang sangat detail seperti ini, dimana Allah menantang setiap orang yang meragukannya untuk mendatangkan ayat yang semisalnya.

DAFTAR ISI

Apa Itu Wawu Tsamaniyah?

Wawu tsamaniyah terdiri dari dua kata; yaitu “wawu” yang berarti huruf wawu; huruf ke 26 dari urutan huruf hijaiyah, dan yang kedua adalah kata “tsamaniyah” yang berarti angka “delapan”.

Sesuai namanya huruf wawu yang satu ini sangat erat kaitannya dengan angka delapan. Dimana ada angka delapan atau hal yang berhubungan dengan angka delapan maka disitu ada huruf ini. Unik bukan?

Pembahasan ini sebenarnya termasuk pembahasan yang langka dan hampir tidak dibahas di kitab-kitab yang membicarakan tentang kaidah bahasa Arab, karena hal inilah pembahasan wawu tsamaniyah ini diperselisihkan oleh para ahli bahasa Arab. Sebagian mereka mengatakan tidak ada yang namanya wawu tsamaniyah namun sebagian lain menetapkan keberadaannya.

Wawu tsamaniyah, ia dinamakan demikian karena ia datang setelah penyebutan tujuh hal yang disebutkan secara berturut-turut tanpa dijeda oleh huruf ‘athaf kemudian tatkala penyebutan yang kedelapan, ia disebutkan bersama dengan huruf wawu.

Perhatikan contoh kalimat berikut ini:

محمد عالم، فاهم، راسخ، تقي، نقي، زكي، ورع، وزاهد

Muhammad adalah seorang yang (1) berilmu, (2) mudah faham, (3) kokoh, (4) bertakwa, (5) bersih hatinya, (6) suci, (7) wara’ dan (8) zuhud

Pada contoh kalimat diatas antara satu sifat dengan sifat yang lain tidak dijeda oleh huruf athaf, namun saat menyebutkan sifat yang kedelapan muncul huruf wawu. Inilah yang dinamakan dengan wawu tsamaniyah.

Wawu Tsamaniyah Dalam Al-Qur'an

Apakah ada wawu tsamaniyah dalam Al-Qur’an?

Sebagaimana telah disinggung sebelumnya bahwa para ulama berbeda pendapat tentang eksistensi wawu tsamaniyah ini. Para ahli yang menetapkan adanya wawu tsamaniyah membawakan beberapa contoh dalam Al-Qur’an, diantaranya adalah firman Allah tabaraka wa ta’ala:

التَّائِبُونَ الْعَابِدُونَ الْحَامِدُونَ السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدُونَ الْآمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنكَرِ

“Mereka itu adalah orang-orang (1) yang bertaubat, (2) yang beribadat, (3) yang memuji, (4) yang melawat, (5) yang ruku’, (6) yang sujud, (7) yang menyuruh berbuat ma’ruf dan (8) mencegah berbuat munkar.” (QS. At-Taubah: 112)

Contoh lainnya, firman Allah Ta’ala:

عَسَىٰ رَبُّهُ إِن طَلَّقَكُنَّ أَن يُبْدِلَهُ أَزْوَاجًا خَيْرًا مِّنكُنَّ مُسْلِمَاتٍ مُّؤْمِنَاتٍ قَانِتَاتٍ تَائِبَاتٍ عَابِدَاتٍ سَائِحَاتٍ ثَيِّبَاتٍ وَأَبْكَارًا

“Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan isteri yang lebih baik daripada kamu, (1) yang patuh, (2) yang beriman, (3) yang taat, (4) yang bertaubat, (5) yang mengerjakan ibadat, (6) yang berpuasa, (7) yang janda dan (8) yang perawan.” (QS. At-Tahrim: 5)

Catatan; huruf wawu ini selalu ada pada penyebutan angka delapan, tidak angka yang lain.

Mari kita simak kembali firman Allah yang lainnya;

سَيَقُولُونَ ثَلَاثَةٌ رَّابِعُهُمْ كَلْبُهُمْ وَيَقُولُونَ خَمْسَةٌ سَادِسُهُمْ كَلْبُهُمْ رَجْمًا بِالْغَيْبِ ۖ وَيَقُولُونَ سَبْعَةٌ وَثَامِنُهُمْ كَلْبُهُمْ

“Nanti (ada orang yang akan) mengatakan (jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan: “(jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam adalah anjing nya”, sebagai terkaan terhadap barang yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan: “(jumlah mereka) tujuh orang,dan yang ke delapan adalah anjingnya”” (QS. At-Tahrim: 5)

Perhatikan! Pada lafazh رابعهم (yang keempat) Allah tidak meng-‘athaf-kannya dengan wawu, demikian juga pada lafazh سادسهم (yang keenam) juga tak diathaf dengan wawu. Tapi pada lafazh ثامنهم (yang kedelapan) Allah meng-‘athaf-kannya dengan huruf wawu!

Contoh lain dalam hal ini adalah firman Allah dalam surat Al-Haaqqah:

سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومًا

“yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus” (QS. Al-Haaqqah: 7)

dan yang paling menakjubkan wawu tsamaniyah ini juga terdapat pada salah satu dari dua ayat yang ada pada surat Az-Zumar. Allah berfirman:

وَسِيقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَىٰ جَهَنَّمَ زُمَرًا ۖ حَتَّىٰ إِذَا جَاءُوهَا فُتِحَتْ أَبْوَابُهَا

“Orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahannam berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya” (QS. Az-Zumar: 71)

Ayat ke 71 dari surat Az-Zumar diatas menjelaskan keadaan orang-orang kafir saat mereka memasuki pintu-pintu neraka. Kemudian pada ayat 73 Allah menyebutkan keadaan orang-orang bertakwa saat memasuki pintu-pintu surga,;

وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا ۖ حَتَّىٰ إِذَا جَاءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَابُهَا

“Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan dibawa ke dalam surga berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu dan pintu-pintunya telah terbuka(QS. Az-Zumar: 73)

Jika kita perhatikan dengan seksama, pada ayat 71 tidak disebutkan huruf wawu yang menyertai kata أبواب (pintu-pintu) adapun pada ayat ke 73 disana ada huruf wawu yang menyertai kata أبواب (pintu-pintu).

Sebagian ahli bahasa Arab menyebutkan bahwa huruf wawu yang ada pada ayat 73 tersebut adalah wawu tsamaniyah. Hal ini dikarenakan pintu surga berjumlah delapan, sebagaimana yang dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam:

فِي الجَنَّةِ ثَمَانِيَةُ أبْوَابٍ، فِيهَا بَابٌ يُسَمَّى الرَّيَّانَ، لا يَدْخُلُهُ إلَّا الصَّائِمُونَ

“Di surga ada delapan pintu, diantaranya ada pintu yang disebut dengan ar-Rayyan. Tidak ada yang bisa memasukinya kecuali orang-orang yang berpuasa” (HR. Bukhari no. 3257).

Dari Ubadah bin Ash Shamit radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:

مَن قالَ: أشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وحْدَهُ لا شَرِيكَ له، وأنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ ورَسولُهُ، وأنَّ عِيسَى عبدُ اللهِ، وابنُ أمَتِهِ، وكَلِمَتُهُ ألْقاها إلى مَرْيَمَ ورُوحٌ منه، وأنَّ الجَنَّةَ حَقٌّ، وأنَّ النَّارَ حَقٌّ، أدْخَلَهُ اللَّهُ مِن أيِّ أبْوابِ الجَنَّةِ الثَّمانِيَةِ شاءَ

“Barangsiapa yang mengucapkan: aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu baginya, dan bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya, dan bersaksi bahwa Isa adalah hamba Allah dan anak dari umat-Nya, dan ia adalah kalimat Allah yang diberikan kepada Maryam dan ruh dari-Nya, dan bersaksi bahwa surga itu benar adanya dan neraka itu benar adanya, maka Allah akan masukan ia ke surga dari delapan pintu surga yang mana saja” (HR. Muslim no.28).

Adapun jumlah pintu neraka tidaklah berjumlah delapan melainkan hanya tujuh saja, sebagaimana yang telah Allah sebutkan dalam al-Quran;

وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمَوْعِدُهُمْ أَجْمَعِينَ . لَهَا سَبْعَةُ أَبْوَابٍ لِكُلِّ بَابٍ مِنْهُمْ جُزْءٌ مَقْسُوم

Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut setan) semuanya. Jahannam itu mempunyai tujuh pintu. Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka. (QS. al-Hijr: 43 – 44)

Tidak Ada Wawu Tsamaniyah!

Sebagian ahli bahasa Arab yang lain menolak adanya wawu tsamaniyah, mereka mengatakan: “Tidak ada wawu tsamaniyah!”

Salah satu landasan pendapat ini adalah karena pembahasan ini tidak pernah disinggung para ahli bahasa Arab di kitab-kitab mereka kecuali oleh segelintir ulama saja, seperti Al-Hariri penulis kitab Durratul Ghawash fi Awhamil Khowash, Ibnu Khalawayh (ahli nahwu), ats-Tsa’alabi dalam Fiqh al-Lughah dan Abul Baqa’ dalam Al-Kulliyyat rahimahumullah. Adapun para raksasa ilmu dalam bahasa Arab seperti Imam Al-Khalil Al-Farahidy, Imam Sibawaih, Imam Ibnu Manzhur, Imam Al-Azhary, Imam Ibnu Faris dan lain-lain rahimahumullah tidak menyinggung sedikitpun di kitab-kitab mereka tentang Wawu ats-Tsamaniyah ini. Sampai-sampai Imam As-Suyuthi rahimahullah mengatakan:

ولم يذكر هذه الواو أحد من أئمة العربية

“Tidak ada seorangpun imam/pakar bahasa Arab yang menyebutkan wawu ini” (Ham’ul Hawami’ fii Syarhi Jam’il Jawami’ 3/161)

Imam Al-Harowi rahimahullah (w. 415 H) salah seorang imam besar dalam bidang nahwu sekaligus penulis kitab Al-Uzhiyyah fi ‘Ilmil Huruf yang merupakan salah satu kitab rujukan ulama setelahnya dalam pembahasan huruf-huruf ma’ani juga tak menyebutkan Wawu Ats-Tsamaniyah ini dalam kitabnya tersebut, padahal dalam kitab itu beliau membuat bab tersendiri yang membahas dua belas macam huruf Wawu dalam bahasa Arab. (lihat: Al-Uzhiyyah fi ‘Ilmil Huruf hal. 231)

Namun anehnya Imam Al-Hariry rahimahullah dan yang sependapat dengan beliau mengatakan bahwa Wawu ats-Tsamaniyah adalah salah satu kekhususan bahasa Arab, bahkan beliau mengklaim bahwa orang-orang Arab memunculkan huruf wawu ini pada kata di urutan delapan. Meskipun faktanya demikian namun pendapat beliau ini ternyata banyak diingkari oleh ulama lainnya. Pasalnya, tak ada satupun kitab-kitab yang ditulis oleh para imam dalam bidang ini yang didalamnya berisi pembahasan lengkap dan detail tentang syai’ir-sya’ir arab klasik menyebutkan atau menyinggung tentang huruf kontroversial ini.

Huruf wawu yang diklaim sebagai wawu tsamaniyah pada ayat ini tidak lain merupakan wawu biasa yang mengandung makna taukid dan tahqiq.

Penjelasan Tentang Wawu Yang Diklaim Sebagai Wawu Tsamaniyah

Banyak ulama yang menyanggah pendapat yang menetapkan adanya wawu tsamaniyah, dari mulai imam as-Suyuthi, Imam Ibnu Hisyam hingga ahli bahasa Arab kontemporer yaitu DR. Fadhil Shalih As-Saamira’iy rahimahumullah al-jami’. Berikut adalah video penjelasan DR. Fadhil saat ditanya tentang huruf “wawu” yang ada pada firman Allah:

سَيَقُولُونَ ثَلَاثَةٌ رَّابِعُهُمْ كَلْبُهُمْ وَيَقُولُونَ خَمْسَةٌ سَادِسُهُمْ كَلْبُهُمْ رَجْمًا بِالْغَيْبِ ۖ وَيَقُولُونَ سَبْعَةٌ وَثَامِنُهُمْ كَلْبُهُمْ

“Nanti (ada orang yang akan) mengatakan (jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan: “(jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam adalah anjing nya”, sebagai terkaan terhadap barang yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan: “(jumlah mereka) tujuh orang, dan yang kedelapan adalah anjingnya”” (QS. At-Tahrim: 5)

Dari video diatas dapat kita simak bahwa huruf wawu yang di klaim sebagai wawu tsamaniyah dalam Al-Qur’an dan dijadikan dalil oleh kalangan yang menetapkannya adalah wawu yang berfungsi untuk memberikan salah satu dari dua faidah, yaitu taukid dan tahqiq

Misalnya pada lafazh “wa tsaaminuhum” dalam surat Al-Kahfi. Huruf wawu pada ayat ini berfungsi untuk mentaukid/menegaskan bahwa pendapat yang mengatakan jumlah dari Ashabul Kahfi adalah tujuh orang dan yang kedelapannya adalah anjingnya adalah pendapat yang tepat.

Para ulama juga menyebutkan apabila terdapat makna sebuah sifat yang berjauhan atau bertentangan maka didatangkan huruf wawu sebelum sifat tersebut untuk memberikan makna tahqiq. Contohnya adalah ayat yang terdapat dalam firman Allah:

التَّائِبُونَ الْعَابِدُونَ الْحَامِدُونَ السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدُونَ الْآمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنكَرِ

“Mereka itu adalah orang-orang (1) yang bertaubat, (2) yang beribadat, (3) yang memuji, (4) yang melawat, (5) yang ruku’, (6) yang sujud, (7) yang menyuruh berbuat ma’ruf dan (8) mencegah berbuat munkar.” (QS. At-Taubah: 112)

Pada ayat diatas Allah menyebutkan delapan sifat orang mukmin. Jika kita perhatikan dengan seksama antara sifat ketujuh dan kedelapan terdapat huruf wawu yang diklaim sebagai wawu tsamaniyah. Padahal wawu ini adalah huruf yang didatangkan karena jauhnya makna sifat ketujuh dan kedelapan yaitu menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat munkar, sekaligus sebagai tahqiq bahwa mencegah orang dari berbuat kemungkaran merupakan amalan yang paling berat dari amalan-amalan yang disebutkan sebelumnya, karena berkonsekwensi dicaci oleh orang lain, disakiti, dikucilkan, diusir bahkan dibunuh.

Hal ini dikuatkan oleh firman Allah di awal surat Al-Hadid:

هُوَ الْاَوَّلُ وَالْاٰخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ

“Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS. Al-Hadid: 3)

Antara dua sifat yang berjauhan atau bertentangan dijeda dengan huruf wawu, dan ini bukanlah huruf wawu tsamaniyah.

Adapun huruf wawu yang ada pada ayat berikut:

عَسَىٰ رَبُّهُ إِن طَلَّقَكُنَّ أَن يُبْدِلَهُ أَزْوَاجًا خَيْرًا مِّنكُنَّ مُسْلِمَاتٍ مُّؤْمِنَاتٍ قَانِتَاتٍ تَائِبَاتٍ عَابِدَاتٍ سَائِحَاتٍ ثَيِّبَاتٍ وَأَبْكَارًا

“Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan isteri yang lebih baik daripada kamu, (1) yang patuh, (2) yang beriman, (3) yang taat, (4) yang bertaubat, (5) yang mengerjakan ibadat, (6) yang berpuasa, (7) yang janda dan (8) yang perawan.” (QS. At-Tahrim: 5)

maka ia bukanlah wawu tsamaniyah, namun ia adalah wawu yang memiliki faidah taqsim (pemisah), sebab kalau tidak dipisahkan antara kata “janda” dan “perawan” maka akan rawan disalahfahami menjadi “janda yang perawan”.

Bantahan Terhadap Pihak Yang Mengatakan Adanya Wawu Tsamaniyah

Ada beberapa ayat dalam Al-Qur’an yang menyebutkan beberapa sifat yang berturut-turut namun pada sifat yang kedelapan tidak ada huruf wawu. Contohnya pada surat Al-Qolam:

وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَهِينٍ * هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ * مَنَّاعٍ لِلْخَيْرِ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ * عُتُلٍّ بَعْدَ ذَلِكَ زَنِيمٍ

“Dan janganlah engkau patuhi setiap orang yang (1) suka bersumpah dan (2) suka menghina, (3) suka mencela, (4) yang kian ke mari menyebarkan fitnah, (5) yang merintangi segala yang baik, (6) yang melampaui batas dan banyak dosa, (7) yang bertabiat kasar, selain itu juga (8) terkenal kejahatannya,.” (QS. Al-Qolam: 10 – 13)

Juga dalam firman Allah berikut:

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لا إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Dialah Allah tidak ada tuhan selain Dia. (1) Maharaja, (2) Yang Mahasuci, (3) Yang Mahasejahtera, (4) Yang Menjaga Keamanan, (5) Pemelihara Keselamatan, (6) Yang Mahaperkasa, (7) Yang Mahakuasa, (8) Yang Memiliki Segala Keagungan, Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. Al-Hasyr: 23)

Perhatikan dengan seksama huruf wawu pada ayat diatas!

Pada ayat 71 tidak ada huruf wawu yang menyertai kata أبواب (pintu-pintu) karena telah kita ketahui bersama bahwa jumlah pintu neraka ada tujuh, adapun pada ayat ke 73 disana ada huruf wawu yang menyertai kata أبواب (pintu-pintu) karena telah kita ketahui bersama bahwa jumlah pintu surga ada delapan.

Subhanallah subhanallahi rabbil ‘azhiim

____
Heri Suheri, 7 Ramadhan 1441 H/29 April 2020 00.09 PM.

Diterjemahkan secara bebas  dari: https://www.facebook.com/Haitham.Alheweny.Official.Page/posts/3004973446263735 dengan beberapa penambahan dan penyesuaian

Tentang Heri Suheri

Founder Qothrunnadaa Learning Centre. Alumni Ma'had Ihyaa Assunnah Tasikmalaya jurusan TBA (Takhassus Bahasa Arab) tahun 2009 dan Ma'had 'Aly Assunnah Medan (sekarang STAI As-Sunnah) tahun 2012. Berpengalaman lebih dari sepuluh tahun mengajar bahasa Arab bagi pembelajar pemula. Semoga Allah mengampuninya dan mengampuni kedua orang tuanya. Amiin

Baca Juga Artikel Berikut

Biografi Ringkas Imam Ibnu Malik

Biografi Imam Ibnu Malik

Biografi Ibnu Malik – Siapa saja yang mendalami ilmu Nahwu pastilah mengetahui kitab Alfiyah Ibnu …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.