Kamis , 29 Juli 2021

Tempo Dalam Membaca Al-Qur’an

Tempo adalah ukuran kecepatan pada suatu suara tertentu, termasuk ketika membaca Al-Qur’an.

Dalam kaitannya dengan tempo membaca Al-Qur’an, maka kita boleh membacanya sesuai dengan apa yang mudah bagi kita.

Kita juga bisa menyesuaikan tempo bacaan sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada saat membaca Al-Qur’an.

Syarat-Syarat

Syarat yang terpenting adalah bacaan kita telah memenuhi rukun dan kaidah yang telah disebutkan pada artikel-artikel sebelumnya seperti tartil dan tajwid agar kita dapat terhindar dari kesalahan-kesalahan yang dapat merubah arti maupun makna dari isi bacaan Al-Qur’an kita itu sendiri.

Al-Imam Ibnul Jazariy berkata dalam Thayyibatun Nasyr :

وَيُقْرَأ ٱلْقُرآنُ بِالتَّحْقِيقِ مَع حَدْرٍ وَتَدوِيرٍ وَكُلٌّ ْمُتَّبَع
مَعَ حُسْنِ صَوتٍ بِلُحُونِ ٱلْعَرَبِ مُرَتَّلًا مُجَوَّدًا بِاْلعَرَبِي

“Dan Al-Quran dibaca dengan tahqiq, dan hadr, dan tadwir dan semuanya ber-ittiba’ (ada sandarannya dari Rasul).

Dengan suara yang bagus dari dialek Arab, dengan tartil dan tajwiddengan bahasa Arab (yang fasih).”

Terdapat 4 jenis tempo dalam membaca Al-Qur’an,berikut adalah 4 jenis tempo bacaan Al-Qur’an :

4 Jenis Tempo Membaca Al-Qur'an

Tahqiq

Secara bahasa tahqiq artinya adalah “sampai pada hakikat“, secara istilah adalah membaca Al-Quran dengan tempo yang lambat dan suara yang jelas sambil benar-benar menyempurnakan serta menjaga hak dan mustahak huruf.

Maksudnya adalah memberikan hak-hak baik kejelasan bacaan setiap huruf-hurufnya, panjang mad, kejelasan hamzah, kesempurnaan harokat, maupun membaca Al-Qur’an dengan tenang, perlahan,serta hati-hati.

Metode ini sangat cocok dan relevan untuk proses pembelajaran Al-Qur’an yang sangat menekankan pada ketepatan tahsin maupun hukum-hukum tajwid.

Sebagaimana Dr.Su’ad berkata dalam kitab  ‘Taysirurrahmaan fii Tajwiidil Quran‘, hal. 29 yaitu :

“Membaca dengan tahqiq afdhal (lebih baik) dan sangat baik dalam proses kegiatan belajar-mengajar”.

Contoh bacaan dengan tempo ini adalah bacaan Syaikh Mahmud Khalil Al-Hushari yang sudah tersebar rekamannya atau Syaikh Abdullah Ali Bashfar versi Mujawwad.

Termasuk dalam tempo tahqiq juga adalah bacaan yang biasa disenandungkan oleh Qari Mu’ammarZA.

Hadr

Secara bahasa hadr bermakna ‘cepat‘, secara istilah maksudnya adalah membaca Al-Quran dengan tempo cepat sambil tetap menjaga hukum-hukum tajwid dengan sempurna.

Hendaklah berhati-hati dari mengurangi hak dan mustahak huruf, meninggalkan ghunnah, tidak memanjangkan mad, atau merusak harakat.

Bacaan dengan tempo ini biasanya digunakan saat tadarrus pribadi atau bacaan dalam shalat tarawih karena rakaat yang panjang, sehingga tempo bacaan dipercepat untuk memberikan keringanan pada makmum.

Contoh bacaan hadr adalahbacaan Syaikh Su’ud Asy-Syuraim atau Syaikh Abdurrahman As-Sudais serta para Masyaikh lain saat mengimami shalat tarawih.

Tadwir

Secara bahasa tadwir memiliki makna ‘Pertengahan‘, secara istilah maksudnya adalah membaca Al-Qur’an dengan tempo sedang, tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambar atau bisa di sebut bahwa bacaan ini berada di antara tahqiq dan hadr.

Ukuran bacaan yang digunakan dalam tempo ini (tadwir) adalah semisal jika ada pilihan saat membaca Al-Qur’an(tentunya sesuai dengan kaidah tajwid) yaitu boleh Memanjangkan bacaan 2, 4,atau 6 maka tempo ini (Tadwir) memilih untuk memanjangkan pertengahan nya yaitu 4.

Bacaan dengan tempo ini biasanya digunakan dalam shalat lima waktu.
Contoh bacaan dengan tempo ini adalah bacaan Syaikh Misyari Rasyid Al-‘Afasi atau para Masyaikh lain yang sudah banyak tersebar. Rata-rata rekaman murottal Al-Quran juga menggunakan tempo ini.

Menurut Ibnul Jazariy, dalam kitab ‘An-Nasyr fil Qiraatil ‘Asyr‘ “Adapun tartil bukanlah termasuk tingkatan tempo membaca Al- Qur’an, melainkan sifat yang mesti dijaga bersamaan dengan ketiga tingkatan yang telah diuraikan”.
Hal ini sebagaimana telah kami uraikan saat menjelaskan makna tartil yang mencakup dua aspek yaitu: tajwidul huruf dan ma’rifatul wuquf.

Dr. Su’ad mengatakan dalam kitab ‘Taysirurrahmaan fii Tajwiidil Quran‘ hal. 29 bahwa : tartil adalah membaca Al-Quran dengan pemahaman dan tadabbur sambil menyempurnakan hak dan mustahak huruf dari makhraj dan sifatnya, karena sesungguhnya Al-Qur’an diturunkan untuk dipahami, ditadaburi, dan diamalkan. inilah makna bait :

مَعَ حُسْنِ صَوتٍ بِلُحُونِ ٱلْعَرَبِ مُرَتَّلًا مُجَوَّدًا بِاْلعَرَبِي

“Dengan suara yang bagus dari dialek Arab, dengan tartil dan tajwid dengan bahasa Arab (yang fasih).”

Didalam penjelasan diatas dapat kita pahami bahwa makna bait adalah membaca Al-Qur’an dengan berusaha mengikuti dialeknya orang-orang arab berdasarkan kaidah tajwid dan menggunakan bahasa arab yang fasih.

Tentang Heri Suheri

Founder Qothrunnadaa Learning Centre. Alumni Ma'had Ihyaa Assunnah Tasikmalaya jurusan TBA (Takhassus Bahasa Arab) tahun 2009 dan Ma'had 'Aly Assunnah Medan (sekarang STAI As-Sunnah) tahun 2012. Berpengalaman lebih dari sepuluh tahun mengajar bahasa Arab bagi pembelajar pemula. Semoga Allah mengampuninya dan mengampuni kedua orang tuanya. Amiin

Baca Juga Artikel Berikut

Rukun Qiro'ah Al-Quran

Rukun Qiro’ah Al-Quran

Qothrunnadaa.com – Rukun Qiro’ah Al-Quran | Melanjutkan tulisan sebelumnya yaitu tentang tingkatan dalam membaca Al-Quran, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.