Kamis , 29 Juli 2021

Tajwid dan Tartil

Allah subhanahu wata’ala saat memerintahkan kaum muslimin dalam kaitannya dengan bagaimana seharusnya membaca Al-Qur’an, menggunakan kata tartil.

Sebagaimana firman-Nya:

 ﴿٤﴾أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا 

atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan.
[QS. Al-Muzammil 73:4]

Kata “perlahan-lahan” yang dikutip dalam terjemahan tersebut sangat multi tafsir.

Karena sejatinya tidak setiap yang perlahan-lahan bermakna tartil, begitupun tidak setiap yang tartil harus benar-benar perlahan-lahan. 

Apalagi apa yang tersurat dalam ayat tersebut hakikatnya bukanlah seperti apa yang diterjemahkan.

Bila kita telah mempelajari kaidah bahasa arab, maka kita memahami bahwa penggalan ayat tersebut merupakan kalimat perintah yang tegas.

Ketegasan tersebut tampak pada kata perintah yang diulang di akhir kalimatnya:

“warattilil qur-ana tartila”

Maka, terjemahanyang menurut kami lebih tepat bagi penggalan ayat tersebut adalah
“…dan tartilkanlah Al-Qur’an dengan benar-benar tartil.”

APA MAKNA TARTIL SEBENARNYA?

Menurut Al-Imam ‘Ali bin Abi Thalib, berkaitan dengan kata “tartil” dalam ayat di atas bermakna :

اْلتَرْتِيْلُ هُوَ تَجْوِيْدُ اْلْحُرُوْفِ وَمَعْرِفَةُ اْلْوُقُوْفِ

“Tartil adalah mentajwidkan huruf dan mengetahui kaidah waqaf”
[ Ibnul Jazariy, An-Nasyr fil Qiraatil ‘Asyr (I/ 209) ]

Mentajwidkan huruf berarti membaca huruf sesuai dengan tempat keluarnya dengan disertai sifat hak dan mustahaknya.

Hak huruf adalah sifat asli yang senantiasa menyertai huruf seperti hams, jahr, syiddah, rakhawah, qalqalah, dan sebagainya.

Sedangkan mustahak huruf adalah sifat yang sewaktu-waktu menyertai huruf tertentu.

Pembagian Mustahaq Huruf:

  1. sifat tafkhim (suara tebal),
  2. tarqiq (suara tipis),
  3. hukum-hukum yang terjadi dengan sebab tarkib (hubungan antar huruf).

Membaca dengan tajwid artinya membaca Al-Qur’an sebagaimana kepada Nabi Muhammad shallahu’alaihi wassalam dahulu pertama kali diturunkan Allah subhanahu wata’ala melalui Malaikat Jibril ‘alayhis salam.
Inilah yang dikehendaki oleh Allah subahanahu wata’ala :dan yang lebih disukai-Nya.

Dari Zaid bin Tsabit, dari Nabi shallahu’alaihi wassalam bersabda :

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ أَنْ يُقْرَأَ هَذَا اْلْقُرْءَنُ كَمَا أُنْزِلَ

“Sesungguhnya Allah menyukai Al-Qur’an ini dibaca sebagaimana Al-Qur’an diturunkan”. [HR.Ibnu Khuzaimah]

Membaca sebagaimana Al-Qur’an diturunkan berarti membacanya dengan cara dan gaya membaca orang-orang arab yang hidup pada masa nubuwwah (zaman kenabian), yakni para Sahabat radhiyallaahu ‘anhum Karena mereka menyimak secara langsung bagaimana Rasulullaah shallahu’alahi wassalam membacakannya kepada mereka.

Oleh karenanya, kita juga diperintahkan untuk membaca Al-Qur’an dengan dialek dan gaya bahasa orang-orang Arab yang fasih, yakni dialek dan gaya bahasa para sahabat.

Dan dari Hudzayfah bin Al-Yaman, Rosulullah shallahu’alaihi wassalam bersabda : 

إِِقْرَءُوْا الْقُرْءَانَ بِلُحُونِ اْلْعَرَبِ وَ أَصْوَتِهَا

“Bacalah Al-Quran dengan dialek orang Arab dan suara-suaranya yang fasih.”
[HR. Ath-Thabrani, Al-Bayhaqi, Abu Ubaid, dan Ibnul Jawzi]

Ibnul Jawzi mengatakan dalam Al-‘Ilal Al-Mutanahiyah [1/ 111] bahwa sanad hadits ini tidak shahih dan Syaikh Al-Albani mendhaifkan hadits ini dalam Dha’iful Jaami’ [1067].

Namun demikian, para Ulama Qurra menyepakati keharusan membaca Al-Qur’an dengan dialek arab dan bahasanya yang paling fasih. Berkaitan dengan hal ini, Al-Imam Ibnul Jazariy berkata dalam Thayyibatun Nasyr:

مُرَتَّلاً مُجَوَّدًا بِا الْعَرَبىِ مَعَ حُسْنِ صَوْتٍ بِلُحُونِ ٱلْعرَبِ

“Dengan suara yang bagus dari dialek Arab, dengan tartil dan tajwiddengan bahasa Arab (yang fasih).”

Lebih dari itu, Al-Imam Ibnul Jazariy juga menegaskan kewajiban mempraktikkan tajwid saat membaca Al-Quran dalam Muqaddimahnya. Beliau berkata,

وَ الْأَخْذُ بِاالتَّجْوِيْدِ حَتْمٌ لاَزِمُ

 مَنْ لَمْ يُجَوِّدِ الْقُرْانَ آثِمُ 

لِاَنَّهُ بِهِ الَهُ أَنْزَلاَ

 وَ هَكَذَا مِنْهُ إِليْنَا وَصَلاَ

“Dan mengamalkan tajwid hukumnya wajib secara mutlak bagi seluruh muslim mukallaf. Siapa saja orang yang sengaja tidak mengamalkan tajwid saat membaca Al-Qur’an, maka ia berdosa,

Karena bersama dengan tajwid Allaah menurunkan Al-Qur’an dan cara membacanya. Serta bersama dengan tajwid pula Al-Qur’an dan caramembacanya sampai kepada kita.”

Itulah makna Tajwidul Huruf

Sedangkan yang dimaksud ma’rifatul wuquf artinya memahami kapan dan di mana kita boleh atau harus berhenti, serta kapan dan di mana kita boleh atau harus memulai membaca Al-Qur’an.

Sungguh, tidaklah seseorang memahami persoalan wuquf, kecuali bila ia memahami makna yang terkandung pada setiap ayat yang dibaca.

Oleh karena itu, kesempurnaan membaca Al-Qur’an dengan tartil hanya bisa diraih bila memenuhi kedua aspek yang saling berkaitan:

Pertama, membacanya dengan benar sesuai dengan kaidah-kaidah tajwid;

Kedua, memahami apa yang dibacanya, sehingga ia bisa mentadabburi isinya, meresapi makna yang terkandung di dalamnya, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Bila kita belum bisa meraih keduanya secara bersamaan, maka minimal kita sudah berusaha untuk memenuhinya satu per satu.

Semoga Allah subahanahu wata’ala memberikan kita kesabaran dan keistiqamahan sehingga bisa melalui semua proses ini hingga mencapai apa yang diharapkan. Aamiin

Tentang Heri Suheri

Founder Qothrunnadaa Learning Centre. Alumni Ma'had Ihyaa Assunnah Tasikmalaya jurusan TBA (Takhassus Bahasa Arab) tahun 2009 dan Ma'had 'Aly Assunnah Medan (sekarang STAI As-Sunnah) tahun 2012. Berpengalaman lebih dari sepuluh tahun mengajar bahasa Arab bagi pembelajar pemula. Semoga Allah mengampuninya dan mengampuni kedua orang tuanya. Amiin

Baca Juga Artikel Berikut

Rukun Qiro'ah Al-Quran

Rukun Qiro’ah Al-Quran

Qothrunnadaa.com – Rukun Qiro’ah Al-Quran | Melanjutkan tulisan sebelumnya yaitu tentang tingkatan dalam membaca Al-Quran, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.