Kamis , 29 Oktober 2020

Secercah Pengalamanku Belajar Bahasa Arab Hingga Mampu Mengajarkannya (Bagian 1)

Bismillah.

Bagaimana kabarnya teman-teman? Perkenalkan, Aku Heri, aktivitas keseharianku adalah mengajar Bahasa Arab untuk kelas pemula dari nol sampai bisa membaca kitab gundul biidznillah.

Semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan dan keberkahan kepadaku untuk dapat berbagi kebaikan lebih banyak lagi kepada orang lain.

Pada tulisan kali ini, aku ingin berbagi suka-duka pengalamanku belajar Bahasa Arab dari nol hingga sampai sekarang ini mampu mengajarkannya kepada orang lain –walhamdulillah-, semoga menjadi inspirasi dan penggugah semangat bagi para pembaca sekalian.

Awal mula aku belajar Bahasa Arab adalah tahun 2007, tepatnya pasca lulus dari salah satu SMK swasta di daerah Bekasi. Sedari kecil, tidak ada sama sekali kubercita-cita untuk mendalami apalagi hingga mengajar Bahasa Arab karena memang dari kecil aku bukanlah anak pondokan.

Aku hanyalah seorang bocah kemarin sore yang dibesarkan dilingkungan masyarakat yang banyak ikhwah pada hari ini menyebutnya sebagai orang-orang awam, bahkan dari SD hingga lulus SMK, aku masih belum bisa membaca Al-Qur’an dengan baik.

Juli 2007 adalah awal kumelepaskan statusku sebagai siswa, teman-teman banyak yang mulai sibuk mencari tempat kuliah, merubah statusnya menjadi mahasiswa, tak sedikit pula yang sibuk cari kerjaan. Aku? Nganggur! Hehe… Kala itu aku nggak ada pikiran buat ngelanjut belajar kemanapun, nggak juga kerja. Pengen bebas dulu, main dulu, nganggur dulu, hehe.

Cuma nganggurnya digunakan untuk hal-hal positif, yaitu untuk menghadiri kajian-kajian ilmiyah. Pasalnya, di akhir tahun 2016 Allah dengan kasih sayangNya telah memberikan hidayah sunnah kepadaku lewat perantara sahabat di SMK tersebut, semoga lain waktu kubisa kisahkan tentang perjalananku mengenal sunnah.

Kajian di tahun itu tidak sesemarak dan seramai hari ini. Jika hari ini kita mau nyari tempat kajian sangat mudah sekali, terutama di kampung halamanku, di Bekasi, yang sekarang sudah jadi kota, maka lain halnya di tahun 2007 dulu. Majelis-majelis ilmu tidak sebanyak sekarang, jaraknya juga jauh-jauh antara satu majelis ke majelis lain, rata-rata banyaknya pada saat weekend.

Di weekdays aku habiskan waktuku untuk membaca buku-buku agama dan menghafal Al-Qur’an lewat murottalnya Syaikh Hani Rifa’i dari kaset pita yang pastinya anak jaman now nggak ngerti kegunaan benda tersebut.  Jadilah keseharianku sebagai tholibul ‘ilmi pemula yang sedang semangat-semangatnya. Teman mainku sedikit demi sedikit mulai berganti dari yang dahulu gabungnya dengan anak-anak band yang gak jelas juntrungannya, sekarang gabungnya bareng ikhwan yang suka ngaji di masjid.

Berita Baik dari Ikhwan Yang Baik

Tahun itu merupakan tahun yang menjadi penentu perubahan hidupku, awal hijrahku menuju kebaikan, disaat itu ada beberapa ikhwah yang -sepertinya- takjub melihat semangatku dalam menghadiri majelis ilmu. Memang sih, saat itu anak muda lulusan SMK hampir nggak ada yang mau ngabisin waktunya di majelis ilmu, tidak jarang aku menghadiri halaqoh yang cukup jauh jaraknya dengan berjalan kaki. Salah seorang dari ikhwah pengajian ada yang memberikan hadiah kepadaku berupa sepeda bekasnya agar kugunakan untuk menghadiri majelis ta’lim yang tak bisa kujangkau dengan berjalan kaki, meski bekas tapi berkah insyaallah.

Alhasil, makin jauh jangkauan ta’lim-ku, makin banyak kawan-kawan ngajiku, makin banyak ilmu yang kudapat dan makin bodoh rasanya diri ini.

Suatu hari, ada seorang ikhwah -semoga Allah membalas kebaikannya- yang menawarkan kepadaku untuk mendalami bahasa Arab lewat sebuah kursus dengan slogan ‘16 pertemuan bisa baca kitab gundul’. Ikhwah Bekasi yang ditahun segitu sudah ngenal sunnah insyaallah sangat tahu tempat kursusnya. Para pembaca sekalian mungkin nggak nyangka kalau ternyata ketika itu responku adalah; “Biasa aja tuh, nggak minat sama sekali”, apalagi pas lihat biayanya nayamul juga buat anak pengangguran seperti aku ini, aku lebih tertarik belajar fiqh, aqidah, hadits dan semisalnya dari pelajaran yang dibahas di kajian-kajian. Sedari awal aku memang nggak punya niatan sama sekali untuk mendalami bahasa Arab, “bahasa Arab itu susah her! Gue udah pernah belajar, kagak mudeng-mudeng”, tetiba kuteringat ‘syubhat’ teman ngaji saat SMP dulu, aku di SMP dia di MTs. Ketimbang belajar bahasa arab aku lebih minat meniru-niru suaranya syaikh Musyari Rasyid saat mengaji untuk kupraktekkan cengkok-cengkok sedapnya itu. Ikhwah yang menawarkanku untuk belajar bahasa Arab ini cukup menyayangkan responku sambil berujar; “Kenapa nggak mau her? daripada antum ngganggur, antum ikutan aja, ana yang bayarin deh sampai selesai!”. “Alamakjang, dibayaaaarin bro! Sayang juga kalau nggak diambil kesempatan yang mungkin gak datang dua kali, boleh lah..!”, ujarku dalam hati. Di tahun itu angka 550 ribu rupiah lumayan gede juga loh buat sekelas pengangguran sepertiku. “Beneran pak?”, tanyaku. “Bener..!”, katanya. “Oke deh, saya mau coba”.

Registrasi

Pagi itu adalah hari yang kuputuskan untuk melakukan registrasi awal, uang pendaftaran dan biaya paket belajar sampai selesai sudah ditransfer ke pihak Lembaga kursus oleh ikhwah yang tidak perlu kusebut namanya disini untuk menjaga keikhlasannya. Di gedung tempat registrasi terpampang lebar spanduk berwarna hijau yang sekarang sudah tidak hadir lagi dalam ingatanku konten isinya, disana aku bertemu dengan sosok ustadz yang begitu tawadhu dan berwibawa, yang kemudian setelahnya baru kuketahui ternyata beliau yang nantinya akan mengajariku bahasa arab.

Ya, beliau adalah guru kami Al-Ustadz Asri Ibnu Tsani Jali –hafizhahullah-, Founder Lughatuna Research dan Direktur Lughatuna Multilingual School yang sekarang berlokasi di Jatimulya, Bekasi Timur.  Disana aku diwawancara sejenak lalu di tes baca Al-Qur’an. Alhamdulillah, lulus! Modul sudah ditangan, pertemuan perdana waktunya telah diinfokan, tidak sabar rasanya ingin mencicipi belajar bahasa Arab.

Dirumah, kubuka-buka lembaran modul yang terdiri dari beberapa buku itu, ada modul Nahw, ada modul Sharf, ada modul Qiro’ah dan juga Kamus Khusus Lughatuna yang kesemuanya tertulis di bagian atas covernya nama penyusunnya yaitu beliau yang tadi menyambutku dan menguji bacaan Al-Qur’anku hafizhahullah. Kubuka lembar perlembar, kubaca dari daftar isinya sehuruf demi sehuruf, sekata demi sekata hingga kuselesaikan beberapa lembar awal modul-modul ini. “Kayaknya bakal seru nih”, bayangku. Pasalnya, dari muqaddimah hingga bab-bab awal, pemaparan beliau sangat mudah dicerna oleh aku yang masih terlalu awam dalam bahasa Arab, di muqaddimah kalau tidak salah ingat beliau menukil beberapa penggalan tulisan arab gundul yang beliau ambil dari kitab Al-Umm-nya Al-Imam Asy-Syafi’iy rahimahullah. “Apa yang anda pikirkan tatkala melihat tulisan ini?” kata beliau, sambil terus membaca kata-kata di muqaddimah dari salah satu modul tersebut aku menjawabnya dalam hati: “Blas gue nggak faham, gue nggak ngerti”. Kita pake logika aja guys, secara aku jebolan SMK jurusan elektronika arus lemah yang kesehariannya megang solder, timah dan beberapa komponen semacam resistor, transistor, kapasitor wa akhawatuha serta seabrek alat buat nyerpis radio rusak, kali ini harus berhadapan dengan huruf-huruf arab yang nggak ada rambutnya. Terus dimana letak serunya? Insyaallah akan kuceritakan pada tulisanku selanjutnya…. Bersambung.

Tentang Heri Suheri

Founder Qothrunnadaa Learning Centre. Alumni Ma'had Ihyaa Assunnah Tasikmalaya jurusan TBA (Takhassus Bahasa Arab) tahun 2009 dan Ma'had 'Aly Assunnah Medan (sekarang STAI As-Sunnah) tahun 2012.Berpengalaman lebih dari sepuluh tahun mengajar bahasa Arab bagi pembelajar pemula.Semoga Allah mengampuninya dan mengampuni kedua orang tuanya. Amiin

Baca Juga Artikel Berikut

Pembukaan Kursus Bahasa Arab Dari Nol. Buruan Daftaaaar…!

Pembukaan Kursus Bahasa Arab Dari Nol Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Kabar gembira untuk ikhwan dan akhawat …

3 Komentar

  1. terima kasih banyak atas diikutsertakan sebagai peserta belajar bahasa arab
    Semoga bermanfaat dan berkah

  2. masyAllah inspirasi buat semagat belajar bahasa arab….syukron….

  3. Eko Kurniawan

    Maa Syaa Allah inspiratif sekali ya ustadz

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.