Senin , 18 Oktober 2021

Pengertian Tajwid dan Tartil

Allah subhanahu wata’ala saat memerintahkan kaum muslimin dalam kaitannya dengan bagaimana seharusnya membaca Al-Quran, menggunakan kata tartil. 

Sebagaimana firman-Nya:

 ﴿٤﴾أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا 

Dalam terjemahan versi Depag RI, penggalan ayat yang berasal dari QS. Al-Muzzammil ayat ke 4 ini diterjemahkan dengan “…dan bacalah Al- Quran dengan perlahan-lahan.”

Kata “perlahan-lahan” yang dikutip dalam terjemahan tersebut sangat multi tafsir.

Karena sejatinya tidak setiap yang perlahan-lahan bermakna tartil, begitupun tidak setiap yang tartil mesti benar-benar perlahan-lahan.

Apalagi apa yang tersurat dalam ayat tersebut hakikatnya bukanlah seperti apa yang diterjemahkan.

Bila kita telah mempelajari kaidah Bahasa Arab, maka kita memahami bahwa penggalan ayat tersebut merupakan kalimat perintah yang tegas.

Ketegasan tersebut tampak pada kata perintah yang diulang di akhir kalimatnya: warattilil qur-ana tartila. Maka, terjemahanyang menurut kami lebih tepat bagi penggalan ayat tersebut adalah “…dan tartilkanlah Al-Quran dengan benar-benar tartil.”

Dari sini, muncul pertanyaan, 

APA MAKNA TARTIL SEBENARNYA?

Menurut Al-Imam ‘Ali bin Abi Thalib, berkaitan dengan kata “tartil”dalam ayat di atas bermakna:

اْلتَرْتِيْلُ هُوَ تَجْوِيْدُ اْلْحُرُوْفِ وَ مَعْرِفَةُ اْلْوُقُوْفِ

Tartil adalah mentajwidkan huruf dan mengetahui kaidah waqaf
(Ibnul Jazariy, An-Nasyr fil Qiraatil ‘Asyr (I/ 209))

Mentajwidkan huruf berarti membaca huruf sesuai dengan tempat keluarnya dengan disertai sifat hak dan mustahaknya.

Hak huruf adalah sifat asli yang senantiasa menyertai huruf seperti hams, jahr, syiddah, rakhawah, qalqalah, dan sebagainya.

Sedangkan mustahak huruf adalah sifat yang

sewaktu-waktu menyertai huruf tertentu seperti ; sifat tafkhim (suara tebal), tarqiq (suara tipis), dan hukum-hukum yang terjadi dengan sebab tarkib (hubungan antar huruf).

Membaca dengan tajwid artinya membaca Al-Quran sebagaimana dahulu pertama kali diturunkan Allah –‘Azza wa Jalla- kepada Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa sallam –  melalui Malaikat Jibril -‘alayhis salam– 

Inilah yang dikehendaki oleh Allah –‘Azza wa Jalla- dan yang lebih disukai-Nya.  
: Dari Zaid bin Tsabit,Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam – bersabda : 

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ أَنْ يُقْرَأَ هَذَا اْلْقُرْءَنُ كَمَا أُنْزِلَ

Sesungguhnya Allaah menyukai Al-Quran ini dibaca sebagaimana Al-Quran diturunkan.
[HR. Ibnu Khuzaimah]

Membaca sebagaimana Al-Qur’an diturunkan berarti membacanya dengan cara dan gaya membaca orang-orang Arab yang hidup pada masa nubuwwah (zaman kenabian), yakni para Sahabat –radhiyallaahu ‘anhum- Karena mereka menyimak secara langsung bagaimana Rasulullah membacakannya kepada mereka

Oleh karenanya, kita juga diperintahkan untuk membaca Al-Qur’an dengan dialek dan gaya bahasa orang-orang Arab yang fasih, yakni dialek dan gaya bahasa para Sahabat.

Dan dari Hudzayfahَ bin Al-Yaman, Rasuulullaah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabdَa :

ٱقْرَءُوۡا ٱلقُرءَانَ بِلُحُونِ ٱلعَرَبِ وَأصْوَاتِهَا

“Bacalah Al-Qur’an dengan dialek orang Arab dan suara-suaranya yang fasih.”
[HR. Ath-Thabrani, Al-Bayhaqi, Abu Ubaid, dan Ibnul Jawzi]

Ibnul Jawzi mengatakan dalam Al-‘Ilal Al-Mutanahiyah [1/ 111] bahwa sanad hadits ini tidak shahih dan Syaikh Al-Albani mendhaifkan hadits ini dalam Dha’iful Jaami’ [1067].

Namun demikian, para Ulama Qurra menyepakati keharusan membaca Al-Qur’an dengan dialek Arab dan bahasanya yang paling fasih. Berkaitan dengan hal ini, Al-Imam Ibnul Jazariy berkata dalam Thayyibatun Nasyr : 

Tentang Heri Suheri

Founder Qothrunnadaa Learning Centre. Alumni Ma'had Ihyaa Assunnah Tasikmalaya jurusan TBA (Takhassus Bahasa Arab) tahun 2009 dan Ma'had 'Aly Assunnah Medan (sekarang STAI As-Sunnah) tahun 2012. Berpengalaman lebih dari sepuluh tahun mengajar bahasa Arab bagi pembelajar pemula. Semoga Allah mengampuninya dan mengampuni kedua orang tuanya. Amiin

Baca Juga Artikel Berikut

Rukun Qiro'ah Al-Quran

Rukun Qiro’ah Al-Quran

Qothrunnadaa.com – Rukun Qiro’ah Al-Quran | Melanjutkan tulisan sebelumnya yaitu tentang tingkatan dalam membaca Al-Quran, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.