Rabu , 28 Oktober 2020

Pengertian Al-Qur’an

Menurut Etimologi (bahasa), Al-Quran merupakan mashdar musytaq (isim yang terbentuk dari kata lain) dari kata“Qara`a” – “Yaqra`u” – “Qiraa`atan” – “Qur`aanan”. Artinya “bacaan”,dan Al-Qur’an juga disebut sebagai kalamullah,Kalamullah artinya firman Allah , Kalam merupakan satu dari sekian sifat Allah dan Kalamullah mencakup seluruh firman yang datang dari Allah.

sedangkan menurut Terminologi (istilah),  menurut Manna’ Al-Qaththan adalah : 

كَلَامُ اللهِ الْمُنَزَّلُ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَالسَّلَامُ الْمُتَعَبَدُ بِتِلَاوَتِهِ

“Kalamullah (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada nabi Muhammad shallahu’alaihi wassalam, bernilai ibadah ketika membacanya/seseorang memperoleh pahala ketika membacanya”

sedangkan menurut Al-Jurjani adalah : 

هُوَ الْمُنَزَّلُ عَلَى الرَّسُوْلِ الْمَكْتُوْبِ فِيْ الْمَصَاحِفِ الْمَنْقُوْلُ عَنْهُ نَقْلًا مُتَوَاتِرًا بِلَا شُبْهَةٍ

“yang diturunkan kepada nabi Muhammad shallahua’laihi wassalam dituliskan didalam mushaf dan di turunkan olehnya (allah) secara mutawatir tanpa keraguan”

Secara Majazi (Kata yang disandarkan bukan pada makna aslinya) Al-Qur’an memiliki arti peringatan atau pemberitahuan dengan cara maupun sarana-sarana yang di kehendaki oleh allah subhanahu wata’ala kepada seluruh umat manusia tentang Haq (kebenaran) yang berasal dari rob (tuhan)nya yang memiliki tujuan salah satunya adalah sebagai tadzkiroh (peringatan) kepada seluruh umat manusia akan apa yang allah subhanahu wata’ala perintahkan maupun apa yang allah subhanahu wata’ala larang dari manusia untuk dikerjakan di dalam kehidupannya.

Disamping allah subhanahu wata’ala menurunkan Al-Qur’an sebagai tadzkiroh maka, allah pun memberikan huda (petunjuk) pula di dalam nya agar ketika manusia mulai jauh dari yang haq (kebenaran) manusia dapat kembali ke jalan yang benar dengan kembali kepada Al-Qur’an sebagai petunjuk untuk manusia langsung dari robul’alamin (rob semesta alam) yang menciptkannya dan menciptakan seluruh alam semesta dan apa yang ada di dalam nya.

Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad shalahu’alaihi wassalam pada malam bulan ramadhan tepatnya pada saat terjadinya malam lailatul qadr 

Allah subhanahu wata’ala berfirman : 

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

“Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan (Qadr)”

Ibnu ‘Abbas meriwayatkan mengenai nuzulul Qur’an (turunnya Al-Qur’an),yaitu tentang waktu permulaan diturunkannya Al-Qur’an.
Ibnu Abbas berkata :

أَنْزَلَ الله اْلْقُرْآنَ جَمِلَةٌ وَاحِدَةِ مِنْ اللوْحِ الْمَحْفُوْظ إِلَى بَيْتِ اْلْعِزَّةِ مِنْ السَّمَاءِ الدُّنْيَا، ثُمَ نَزَلَ مُفَصلا بِحِسَبِ اْلْوقائع فِي ثَلَاثَ وَعِشْرِيْنَ سَنَةِ عَلَى رَسُوْلُ الله صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلم

“Al Qur’an secara keseluruhan diturunkan dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah di langit dunia. Lalu diturunkan berangsur-angsur kepada Rasul -shallallahu ‘alaihi wa sallam- sesuai dengan peristiwa-peristiwa dalam jangka waktu 23 tahun.”
(HR. Thobari, An Nasai dalam Sunanul Kubro, Al Hakim dalam Mustadroknya, Al Baihaqi dalam Dalailun Nubuwwah. Hadits ini dishahihkan oleh Al Hakim dan disetujui oleh Adz Dzahabi. Ibnu Hajar pun menyetujui sebagaimana dalam Al Fath, 4: 9).

Al-Qur’an diturunkan didalam dada Rosulullah shallahu ‘alaihi wassalam kemudian diberikan kepadanya kepandaian untuk membacanya,

Allaah subahanahu wata’ala Berfirman:

إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُۥ وَقُرْءَانَهُۥ

فَإِذَا قَرَأْنَٰهُ فَٱتَّبِعْ قُرْءَانَهُۥ

“Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (didadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.”
[QS. Al-Qiyamah, 75: 17-18]

Adapun menurut istilah, di antara makna Al-Quran (Syaikhah Dr. Ibtisam ‘Uwayd ‘Al-Mathrafi, terdapat dalam http://uqu.edu.sa/page/ar/146950. Diakses 29 Oktober 2015) adalah : 

كَلَامُ اللَّهِ اْلْمُنَزَّلُ عَلَى نَبِيِّهِ مُحَمَّدٍ اْلمُعْجِزُ بِلَفْظِهِ اْلْمُتَعَبَّدُ بِتِلَا وَتِهِ اْلْمَنْقُوْلُ بِالتَّوَاتُرِ الْمَكْتُوْبُ فِى اْلْمَصَاحِفِ مِنْ أَوَّلِ سُوْرَةِ الْفَاتِحَةِ إِلَى آخِرِ النَّاسِ

” Kalaamullaah (firman Allah) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wassalam ​lafazhnya adalah mu’jizat, membacanya adalah ibadah,sampai kepada kita secara mutawatir, tertulis pada mushaf-mushaf, dari awal surat Al-Fatihah sampai akhir surat An-Naas “

Beberapa Faidah Mengenai Al-Qur’an :

Faidah pertama, bahwa Al-Quran adalah Kalamullah bukan makhluk

Allah subhanahu wata’ala berfirman :

وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّىٰ يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْلَمُونَ

“Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah (Al-Qur’an), kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui” (At-Taubah: 6).

 didalam ayat tersebut kata Kalam artinya adalah (Al-Qur’an) bukan makhluk sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsirnya. Dalam Ayat ini, kata “Kalam/Firman” disandarkan kepada kata “Allah”, sedangkan Kalam (firman) bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri yang terpisah dari diri Allah seperti makhluk, akan tetapi sesuatu yang ada pada Allah sebagai sifat bagi-Nya.

Dalil bahwa Al-Qur’an itu bukan Makhluk 

Allah Ta’ala telah menyebutkan dalam firman-Nya bahwa Al-Qur’an adalah termasuk perintah-Nya,

وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al-Qur’an, (ia) termasuk perintah Kami” (Asy-Syuuraa:52).

Al-Baghawi (Malik bin Dinar) rahimahullah pernah menyebutkan tentang makna “Ruh” di dalam ayat ini:

قال مالك بن دينار : يعني القرآن

“Malik bin Dinar mengatakan (tentang ruh) yaitu Al-Qur’an” (Tafsir Al-Baghawi: 4/90).

Dengan demikian dapat disimpulkan dari ayat di atas bahwa Al-Qur’an adalah termasuk perintah Allah dan bukan termasuk makhluknya. Sedangkan pada ayat yang lain disebutkan bahwa perintah Allah tidaklah sama dengan makhluk-Nya, Allah Ta’ala berfirman:

أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ

“Ingatlah, makhluk itu hanyalah milik-Nya dan perintah itu hanyalah perintah-Nya” (Al-A’raaf: 54).

Dalam ayat ini Allah membedakan antara makhluk dengan perintah-Nya, hal ini dapat kita ketahui dari adanya huruf “wawu” yang disana menunjukkan adanya perbedaan antara sesuatu yang disebutkan sebelum huruf tersebut (yaitu makhluk Allah) dengan sesuatu yang disebutkan sesudah huruf tersebut (yaitu perintah Allah). Jadi Makhluk itu berbeda dengan perintah Allah, yang berarti bahwa makhluk bukanlah perintah Allah, sedangkan dari ayat sebelumnya kita telah ketahui bahwa Al-Qur’an adalah termasuk perintah Allah. Kesimpulannya Al-Qur’an bukanlah makhluk.

Faidah kedua, Al-Quran adalah Kalamullah, bukan kalam (perkataan) makhluk, baik itu Malaikat, Jin, atau Manusia.

Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad, artinya tidak termasuk kitab yang diturunkan kepada selain beliau shallahu’alaihi wassalam sebagai mukjizat.
Syeikh Abdurrahman As-Sa’idy menjelaskan :

ﺍﻟﻤﻌﺠﺰﺓ ﻫﻲ ﻣﺎ ﻳُﺠﺮِﻱ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﺃﻳﺪﻱ ﺍﻟﺮﺳﻞ ﻭﺍﻷﻧﺒﻴﺎﺀ ﻣﻦ ﺧﻮﺍﺭﻕ ﺍﻟﻌﺎﺩﺍﺕ ﺍﻟﺘﻲ ﻳﺘﺤﺪﻭﻥ ﺑﻬﺎ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩ ، ﻭﻳﺨﺒﺮﻭﻥ ﺑﻬﺎ ﻋﻦ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﺘﺼﺪﻳﻖ ﻣﺎ ﺑﻌﺜﻬﻢ ﺑﻪ ، ﻭﻳﺆﻳﺪﻫﻢ ﺑﻬﺎ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ؛ ﻛﺎﻧﺸﻘﺎﻕ ﺍﻟﻘﻤﺮ ، ﻭﻧﺰﻭﻝ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ، ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻫﻮ ﺃﻋﻈﻢ ﻣﻌﺠﺰﺓ ﺍﻟﺮﺳﻮﻝ ﻋﻠﻰ ﺍﻹﻃﻼق

“Mukjizat adalah suatu yang Allah turunkan melalui para rasul dan nabi berupa kejadian-kejadian luar biasa (di luar hukum adat/sebab-akibat) sebagai bentuk tantangan bagi manusia. Merupakan berita dari Allah untuk membenarkan apa yang telah Allah utus untuk menguatkan para rasul dan nabi. Seperti terbelahnya bulan dan turunnya Al-Quran. Al-Quran adalah mukjizat terbesar dari para rasul secara mutlak.” (At-Tanbihaat Al-Lathiifah hal. 107)

Mu’jizat artinya melemahkan. Maksudnya adalah membuat makhluk tidak mampu melawan atau menandinginya. Begitulah Al-Quran, tidak ada satupun makhluk yang bisa membuat satu ayat yang serupa dengan AlQuran.

Allah subhanahu wata’ala berfirman : 

قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَىٰ أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَٰذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا

“Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain”. [Al-Isra 17:88]

dalam sebuah riwayat tafsir disebutkan bahwa Ibnu Katsir pernah menjelaskan mengenai ayat tersebut,berikut penjelasannya :

، فأخبر أنه لو اجتمعت الإنس والجن كلهم ، واتفقوا على أن يأتوا بمثل ما أنزله على رسوله ، لما أطاقوا ذلك ولما استطاعوه ، ولو تعاونوا وتساعدوا وتظافروا ، فإن هذا أمر لا يستطاع ، وكيف يشبه كلام المخلوقين كلام الخالق ، الذي لا نظير له ، ولا مثال له ، ولا عديل له ؟

“Allah mengabarkan bahwa seandainya manusia dan jin seluruhnya bersepakat untuk membuat semisal apa yanh diturunkan kepada Rasul-Nya, mereka tidak akan bisa dan tidak mampu, walaupun mereka saling menolong dan membantu. Perkara ini tidak mungkin bisa dilakukan. Bagaimana mungkin perkataan makhluk bisa menyerupai perkataan pencipta yang tidak ada semisalnya, yang mirip dan yang sebanding.” (Tafsir Ibnu  Katsir)

Tentang Dimas Shandy

Alumnus Ma'had Nurussalam dan Alumni SMA Multi Istiqlal. Founder & CEO Pusatilmupengetahuan.com, Saintek.id, Pusilpen.onlineSemoga Allah mengampuninya dan mengampuni kedua orang tuanya. Amiin..

Baca Juga Artikel Berikut

Keutamaan Mempelajari dan Mengajarkan Al-Qur’an

Al-Qur’an adalah kalamullah yang allah turunkan kepada Rosullah shallahu’alaihi wassalam sebagai petunjuk seluruh umat manusia …

3 Komentar

  1. Muhamad Nooh Lasa

    Blog Terbaik dan Amat Bermanafaat..👍👍👌

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.