Jumat , 27 November 2020

Mana Yang Lebih Baik Di Bulan Ramadhan? Memperbanyak Khatam Ataukah Membaca Dengan Perlahan Disertai Dengan Tadabbur?

“Mana Yang Lebih Baik Di Bulan Ramadhan? Memperbanyak Khatam Ataukah Membaca Dengan Perlahan Disertai Dengan Tadabbur?”

Pertanyaan diatas tidaklah terlintas melainkan dari mereka yang mengharapkan kebaikan, pahala serta keberkahan di bulan yang penuh dengan kemuliaan ini.

Ya, begitulah semestinya seorang muslim, mencari mana yang lebih utama dari dua amalan yang utama lalu mengamalkan yang paling utama dari keduanya.

Dalam hal ini Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah pernah berkata dalam kitab beliau Zaadul Ma’aad Fii Hadyi Khairil ‘Ibaad (1/327):

“Sungguh manusia telah berselisih tentang mana yang lebih utama, membaca (Al-Qur’an) dengan tartil tapi sedikit ataukah cepat akan tetapi banyak. Mana yang lebih afdhal? Dalam hal ini ada dua pendapat:

PENDAPAT PERTAMA

Yaitu pendapat yang dipegang oleh Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Abbas dan selain keduanya rahimahumallah bahwasanya tartil disertai tadabbur walaupun sedikit lebih utama daripada membaca dengan cepat meskipun banyak.

Orang-orang yang yang berpendapat ini berhujjah bahwasanya tujuan dari membaca adalah memahaminya, mentadabburinya, mempelajarinya dan mengamalkannya, dan membaca serta mengamalkannya adalah sarana untuk dapat (memahami-pent) maknanya sebagaimana berkata sebagian salaf:

نزل القرآن ليعمل به فاتخذوا تلاوته عملا

“Al-Qur’an diturunkan untuk diamalkan, maka jadikanlah membacanya sebagai bentuk mengamalkannya”

Karenanya, Ahlul Qur’an adalah orang-orang yang mengetahui dan mengamalkannya meskipun mereka tidak menghafalnya, Adapun orang yang menghafalnya akan tetapi tidak memahaminya dan tidak mengamalkan kandungannya maka bukanlah Ahlul Qur’an meskipun ia telah menegakkan (hak-hak) huruf-hurufnya seperti menegakkan anak panah.

Mereka berkata: ‘Dan inilah petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mentartil-kan suatu surah hingga surah itu menjadi lebih panjang daripada surah yang lebih panjang darinya dan beliau berdiri (membaca) satu ayat sampai shubuh”.

PENDAPAT KEDUA

Dan telah berkata para pembesar madzhab Asy-Syafi’i rahimahullah: ‘Banyak membaca lebih baik’ dan mereka berhujjah dengan hadits Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من قرأ حرفا من كتاب الله ، فله به حسنة ، والحسنة بعشر أمثالها ، لا أقول “الم” حرف ولكن ألف حرف ولام حرف وميم حرف

“Barangsiapa membaca satu huruf dari kitabullah maka ia akan mendapatkan satu kebaikan, dan kebaikan itu dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipatnya, aku tidak mengatakan “Alif Laam Miim” itu satu huruf, akan tetapi “Alif”  satu huruf “Laam” satu huruf dan “Miim” satu huruf. (HR. At-Tirmidzi, beliau menshahihkannya)

Mereka berkata: ‘Dan karena ‘Utsman bin ‘Affan membaca (seluruh) Al-‘Qur’an dalam satu rakaat’. Merekapun menyebutkan atsar-atsar yang berasal dari banyak kaum salaf yang memperbanyak bacaan.

Dan pendapat yang benar dalam masalah ini adalah: Bahwasanya pahala bacaan tartil dan tadabbur lebih agung dan lebih tinggi tingkatannya (pahalanya), dan pahala banyaknya bacaan itu lebih banyak jumlah (pahalanya)

Maka (jenis) yang pertama itu bagaikan seseorang yang bershadaqah dengan berlian yang besar atau seperti membebaskan budak dengan harga yang mahal sekali.

Adapun yang kedua bagaikan seseorang yang bershadaqah dengan jumlah dirham yang banyak atau membebaskan banyak budak tapi yang harganya murah.

Dalam Shahih Al-Bukhary dari Qotadah, ia berkata: ‘Aku bertanya kepada Anas tentang bacaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau berkata: ‘Beliau membacanya dengan memanjangkan bacaan yang panjang’.

Dan telah berkata Asy-Syu’bah: Telah menceritakan kepada kami Abu Jamrah, ia berkata: Aku berkata kepada Ibnu ‘Abbas: ‘Sesungguhnya aku adalah orang yang membaca dengan cepat, mungkin aku membaca (seluruh) Al-Qur’an dalam satu malam sekali atau dua kali (khatam). Maka Ibnu ‘Abbas berkata: ‘Benar-benar aku membaca satu surat lebih kukagumi daripada aku melakukan apa yang telah engkau lakukan, apabila engkau melakukannya dan itu sudah pasti, maka bacalah dengan bacaan yang terdengar oleh kedua telingamu dan meresap ke hatimu’.

Dan telah berkata Ibrahim (An-Nakha’iy): ‘Alqamah membacakan (Al-Qur’an) kepada Ibnu Mas’ud, dan ia adalah orang yang, maka beliau berkata: Tartilkanlah! ayah dan ibuku menjadi tebusanmu, sesungguhnya ia (tartil) adalah keindahan Al-Qur’an’.

Telah berkata Ibnu Mas’ud: ‘Janganlah kalian membaca Al-Qur’an dengan tergesa-gesa sebagaimana membaca sya’ir, dan janganlah kalian membacanya seperti kurma yang rontok berhamburan, dan berhentilah sejenak (untuk menghayati) keajaiban-keajaibannya, dan gerakkanlah hati-hati kalian dengannya, dan janganlah akhir surat menjadi tujuan salah seorang dari kalian’

Dan berkata ‘Abdullah (Ibnu Mas’ud) juga: “Apabila engkau mendengar Allah berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman’  maka fokuskanlah pendengaranmu padanya, karena ia adalah sebaik-baik (perintah) yang engkau diperintahkan dengannya atau keburukan yang engkau akan dipalingkan darinya’

Dan berkata ‘Abdurrahman bin Abi Laila: ‘Telah masuk kepadaku seorang wanita, tatkala itu aku sedang membaca surat Huud, iapun berkata (kepadaku): ‘Wahai ‘Abdurrahman, apakah seperti ini engkau membaca surat Huud?’. Demi Allah, aku bersamanya selama enam bulan, dan aku belum selesai membacanya’.
(selesai kutipan)

Semoga Allah memberkahi seluruh waktu kita hingga dapat mengoptimalkan ibadah di bulan yang mulia ini.

[Heri Suheri – perum Trias Estate, 1 Ramadhan 1439, menjelang berbuka]

Tentang admin

Baca Juga Artikel Berikut

Keutamaan Mempelajari dan Mengajarkan Al-Qur’an

Al-Qur’an adalah kalamullah yang allah turunkan kepada Rosullah shallahu’alaihi wassalam sebagai petunjuk seluruh umat manusia …

5 Komentar

  1. Jadi yg dimaksud mentadaburri disini, karena kita awam Bahasa arab ya ustadz, jd sulit memahami isi yg dibaca, artinya apakah sambil membaca terjemahan bahasa indonesianya bgitukah?

  2. Ahmad Dian Firman Dian

    klw baca aja ustadz boleh juga kan yah maksudnya klw mushafnya ga ada terjemahannya semisal mushaf madinah itu gimana ustadzi ?

    • Boleh, namun alangkah baiknya jika kita memahami apa yang kita baca, yaitu dengan mempelajari bahasa Arab. Jika kita belum bisa bahasa Arab kita bisa membuka mushaf terjemahan untuk melihat artinya.

      Wallahu a’lam

  3. Membaca Dengan Perlahan Disertai Dengan Tadabbur itu ahsan di samping pelan kita juga bisa memperhatikan tajwindya bahan kita bisa mengetahui makna dan tujuan ayat-ayat yang kita baca jadi kita baca bukan hanya sekedar baca namun namun mengetahui artinya juga itu sangat penting

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.