Jumat , 27 November 2020

Khutbah ‘Iedul Fithri – Melepas Kepergian Tamu Agung

Khutbah ‘Iedul Fitri – Melepas Kepergian Tamu Agung
Oleh : Heri Suheri, A.Md.

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakaatuh..

إِنّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ …

فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ

Ikhwatal iman… A’azzaniyallahu wa iyyakum jamii’an..

Sidang shalat ‘ied yang semoga mendapatkan ridha dan ampunan dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Segala puji hanya bagi Allah subhanahu wa ta’ala yang telah mengantarkan kita kepada hari yang penuh dengan kebahagiaan ini, hari kemenangan, hari raya ummat Islam seluruh dunia, yaitu hari raya ‘Iedul Fithri.

Shalawat dan salam semoga terlimpah curahkan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, beserta keluarga beliau dan para sahabatnya dan siapa saja yang menapaki sunnah beliau hingga akhir zaman.

Dan kita berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala, semoga semua yang hadir disini, ditempat ini mendapatkan syafa’at dari beliau di hari kiamat kelak. Amiin ya Rabbal ‘Aalamiin

Allahu akbar (3x) walillaahil hamd

Tak terasa Ramadhan telah pergi berkemas meninggalkan kita, tak terasa pula sudah habis masa singgah tamu agung tersebut di kediaman kita, sambil melambaikan tangannya dan memeluk kita ia berkata:

“Selamat tinggal wahai saudaraku… terima kasih banyak atas jamuannya selama ini, semoga Allah subhanahu wa ta’ala pertemukan ita kembali di tahun-tahun yang akan datang”

Sambil melepaskan pelukannya, kita iringi kepergiannya sambil melantunkan takbir.

Maka di pagi ini, bercampur seluruh rasa di dalam hati, yang tak bisa diungkapkan oleh kata-kata, sedih, gembira, berharap, takut, haru, dan semua perasaan bercampur aduk di dalam dada.

Jama’ah sekalian.. rahimani warahimakumullah…

Kita bersedih karena Ramadhan telah pergi meninggalkan kita, dan kita tidak pernah tahu apakah kita akan menjumpainya lagi di tahun mendatang ataukah tidak? Ini yang membuat kita bersedih hati.

Namun di satu sisi kita juga gembira, dikarenakan satu bulan penuh kita berhasil untuk melewati ujian yang diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada kita, kita berhasil menjalankan perintah Allah subhanahu wa ta’ala yaitu melaksanakan ibadah shaum dan ibadah-ibadah lainnya, meskipun masih jauh dari kata sempurna.

Dalam hadist qudsi Allah Ta’ala berfirman,

للصائم فرحتان، فرحة عند فطره، وفرحة عند لقاء ربه

“Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan; kegembiraan ketika berbuka, dan kegembiraan ketika bertemu dengan Rabbnya.(Muttafaq ‘alaihi)

Para ulama menjelaskan, kegembiraan yang pertama, maksudnya kegembiraan tatkala berbuka, ini tidak terbatas pada tatkala ia berbuka setiap harinya ketika dikumandangkannya adzan maghrib, namun para ulama mengatakan hadits ini bersifat umum. “Al-Fithr” yang dimaksud didalam hadits ini bisa juga bisa bermakna berbuka di hari raya.

Inilah hari kegembiraan kita, hari dimana selayaknya seluruh kaum muslimin di berbagai penjuru dunia bergembira atas datangnya hari ini.

Dilain sisi, kita pun merasakan takut, takut segala ibadah yang kita persembahkan, peluh yang menetes dari dahi kita tatkala melaksanakan ibadah kepada Allah selama satu bulan kemarin, kita khawatir tidak diterma oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Kitapun khawatir, kitapun takut, kita termasuk orang-orang yang digolongkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kedalam orang-orang yang didoakan keburukan oleh malaikat Jibril ‘alaihissalam, dalam sebuah hadits diceritakan bahwasanya malaikat Jibril pernah berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala yang kemudian diaminkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menaiki mimbar sambil mengucapkan “Amiin”, “Amiin”, “Amiin” sampai tiga kali, kemudian para sahabat bertanya:

“Wahai Rasulullah.. apa gerangan yang membuatmu mengucapkan amiin?”

Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

“Tadi, Jibril berdoa kepada Allah dan aku diperintahkan untuk mengaminkannya. Salah satu doanya adalah:

وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ

“Amat merugi/hina seseorang yang Ramadhan masuk padanya kemudian Ramadhan pergi sebelum diampuni dosanya.” (HR. al-Tirmidzi, Ahmad, al-Baihaqi, al-Thabrani, dan dishahihkan Al-Albani dalam Shahih al-Jaami’, no. 3510)

Ini yang kita khawatirkan ikhwani fiddin, a’azzaniyallahu wa iyyakum jamii’an…

Karenanya Al-Imam Qotadah rahimahullah pernah berkata, “Siapa saja yang tidak diampuni di bulan Ramadhan, maka sungguh di hari lain ia pun akan sulit diampuni.” (Lathoif Al Ma’arif, 371)

Namun, kita masih berprasangka baik kepada Allah, kita berprasangka baik kepada Dzat yang telah mengizinkan kita untuk berpuasa.

Di bulan Ramadhan, Allah izinkan kita untuk tarawih, di bulan Ramadhan, Allah izinkan kita untuk bertilawah, dan Allah izinkan kita untuk merasakan manisnya beribadah dan bertaubat kepadaNya.

Kita sadar, amalan kita masih banyak kekurangan dan kesalahan, namun kita tetap berprasangka baik kepada Rabb yang maha penyayang, Allah yang maha baik, Allah yang maha kaya, Allah yang maha pemberi, Allah yang maha mengampunkan dosa-dosa dan menerima taubat hamba-Nya yang bersalah.

Allahu akbar (3x) walillaahil hamd

Ikhwatal iman… rahimani warahimakumullah…

Ramadhan telah usai.. belenggu syaithan telah kembali dilepas, maka saatnyakita berjuang untuk sebelas buan kedepan melawan hawa nafsu kita, dan melawan syaithan-syaithan yang telah terlepas dari belenggunya, maka jangan sampai kegembiraan di hari ini kita awali dengan maksiat kepada Allah subhanahu wa ta’ala, karena sebagian orang menjadikan hari ini seolah adalah awal maksiat, seolah ia baru terlepas dari belenggu, seolah ia merasa bebas untuk melampiaskan syahwatnya, sebagaimana syaithan yang baru bebas dari belenggunya.

Wallahi, demi Allah.. Celakalah orang-orang yang hanya mengenal Allah subhanahu wa ta’ala hanya di bulan Ramadhan.

Wahai hamba Allah.. ingatlah..! Tuhan yang kita sembah di bulan Ramadhan dialah Tuhan yang memiliki bulan-bulan yang lain, Tuhan Ramadhan dia adalah Tuhannya Syawwal, Tuhannya Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, Shafar, rabi’ul Awwal dan lain-lainnya.

Maka hendaknya kita menjaga ketaatan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala tidak hanya di bulan Ramadhan.

Sehingga para ulama mengatakan:

كن ربانيا، ولا تكن رمضانيا

“Jadilah engkau hamba Allah yang baik, dan janganlah menjadi hamba Ramadhan”

فمن كان يعبد رمضان فإن رمضان قد مات

Barangsiapa yang menyembah Ramadhan maka sungguh Ramadhan telah lalu, bulan Ramadhan telah mati, bulan Ramadhan telah berlalu..

ومن كان يعبد الله فإن الله حي لا يموت

Namun barangsiapa menyembah Allah maka Allah tidak pernah mati, Allah maha hidup

 

Allahu akbar (3x) walilahil hamd

Jama’ah sidang ‘ied yang dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala …

Al-Imam Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah didalam kitabnya Lathaiful Ma’arif menyebutkan tanda-tanda amalan seseorang diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala, beliau meyebutkan salah satu tandanya adalah Allah subhanahu wa ta’ala memberikan kepadanya taufik untuk beramal kebaikan setelahnya.

Itulah tanda-tanda diterimanya amal seorang hamba. Apabila ketaatan kita membaik, ketimbang ketaatan kita sebelum memasuki Ramadhan maka insyaallah ini adalah tanda diterimanya Ramadhan kita, tanda berhasilnya kita melalui Ramadhan, tanda kita termasuk orang-orang yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala :

لعلكم تتقون

Namun sebaliknya; siapa yang menyudahi Ramadhan dan mengawali Syawwal dan bulan bulan seterusnya dengan maksiat kepada Allah subhanahu wa ta’ala , kembali ia kejurang maksiat, kembali ia kedalam kehinaan dan menjauh dari jalan Allah subhanahu wa ta’ala, maka ketahuilah ini adalah tanda bahwa Allah subhanahu wa ta’ala tidak terima amal perbuatannya yang ia kerjakan dibulan Ramadhan. Ini ulama yang mengatakan…

Karenanya, mari kita jadikan Ramadhan ini sebagai momen menggembleng diri kita diatas kebaikan, dan kita telah usai, dan insyaallah kita semua adalah orang-orang yang berhasil, maka jadilah kita laksana seperti seekor ulat yang dahulu kerjanya hanya merusak tanaman, lalu kemudian ia berpuasa sejenak di dalam kepompongnya, usai dari puasanya ia keluar menjadi kupu-kupu yang indah, tidak lagi merusak dedaunan, tidak lagi menjadi hama bagi petani, namun justru ia bermanfaat bagi orang-orang yang ada disekitarnya, ia membantu penyerbukan tanaman, ia menyenangkan orang yang melihatnya, maka jadilah setelah Ramadhan ini, kita menjadi orang yang lebih baik, semoga setelah Ramadhan ini kita menjadi hamba yang lebih baik, lebih baik kepada istri kita, lebih baik lagi kepada suami kita, lebih baik lagi kepada anak-anak kita, lebih baik lagi kepada orang tua kita, menyenangkan orang-orang disekitar kita sebagaimana kupu-kupu membantu penyerbukan, maka jadilah kita orang-orang yang bermanfaat bagi orang lain.

Ikhwatal iman, a’azaniyallahu wa iyyakum jamii’an…

Kita tidak pernah tahu apakah tahun depan kita akan bertemu lagi dengan Ramadhan? apakah tahun depan kita akan merasakan indahnya saat-saat seperti ini? Bertakbir bersama… shalat ‘ied bersama saudara-saudara kita ataukah tidak?

Maka… Ramadhan ini kita jadikan adalah Ramadhan yang memberi perubahan kita kearah yang lebih baik, maka disini kita membutuhkan yang namanya istiqomah, istiqomah diatas ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Hampir setiap harinya kita berdoa kepada Allah “ihdinash shirathal mustaqiim” (Ya Allah, tunjukkanlah hamba ke jalanMu yang lurus).

Maka kita membutuhkan doa, dan kita membutuhkan amal shalih yang kontinyu setelah Ramadhan berlalu dari kita. Kita membutuhkan doa, kita berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar Allah istiqomahkan kita diatas ketaatan kepadaNya.

Kenapa demikian? Dikarenakan hati ini selalu berbolak balik wahai hamba Allah… kita butuh agar Allah tetatpkan hati kita diatas ketaatan kepadaNya, istiqomah diatas ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Dan inilah karomah para wali yang sebenarnya, istiqomah diatas ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, karenanya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam banyak doanya selalu berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala :

يا مقلب القلوب ثبت قلبي على دينك

“Ya Allah yang membolak-balikkan hati tetapkanlah hati hamba diatas agamaMu ya Allah”

Dalam hadits yang dikeluarkan oleh Al-Imam At-Tirmidzi dari sahabat Mu’adz bin Jabal.

Disebutkan Ummu Salamah salah seorang istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا أَكْثَرَ دُعَاءَكَ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ؟

“Wahai Rasulullah, alangkah banyaknya engkau mengucapkan ‘yaa muqallibal quluub, tsabbit qalbi ‘alaa diinik’”

Apa jawaban Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?

يَا أُمَّ سَلَمَةَ، إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِيٌّ إِلَّا وَقَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ، فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ، وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ

“Wahai Ummu Salamah, tidaklah dari anak Adam melainkan hatinya ini berada diantara dua jemari dari jemari-jemari Allah subhanahu wa ta’ala, barangsiapa Allah subhanahu wa ta’ala kehendaki untuk istiqomah maka Allah akan istiqomahkan dia, namun barangsiapa yang Allah palingkan maka Allah palingkan dia dari ketaatan kepadaNya.”

Maka Mu’adz bin Jabal, usai ia meriwayatkan hadits ini beliau berdoa kepada Allah:

{رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا}

“Ya Allah, janganlah Engkau palingkan hati hamba setelah Engkau memberikan petunjuk kepada hamba”

Inilah pendukung istiqomah yang pertama, hendaknya kita memperbanyak doa kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Dan yang kedua adalah hendaknya kita jangan tinggalkan amalan-amalan shalih kita, bukan berarti dengan berakhirnya Ramadhan berakhir pula tadarus kita, berakhir pula shalat malam kita, berakhir pula puasa kita, tidak wahai hamba Allah! Janganlah kita tinggalkan ini semua hanya karea dengan berakhirnya bulan Ramadhan.

Ada beberapa amalan yang bisa kita amalkan selepas Ramadhan dan sangat dianjurkan bagi kita untuk mengamalkannya, diantaranya adalah puasa enam hari di bulan Syawwal, jadi kita sudah memasuki bulan Syawwal, kita disunnahkan untuk berpuasa enam hari, dan hukum puasa ini adalah sunnah, sunnah mu’akkadah!

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan:

من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan, kemudian ia iringi enam hari dengan berpuasa sunnah dibulan Syawwal, maka seolah ia tekah berpuasa selama setahun penuh”

Maka usai kita melewati ‘iedul fithri ini, dan Allah memberikan kepada kita kesempatan untuk beramal kembali maka beramallah! “Faidza faraghta fanshab!” (Apabila engkau telah usai dari suatu pekerjaan, maka mulailah pekerjaan yang baru lagi). Mulai lagi ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Dan yang kedua adalah silaturrahim, usahakan ba’da ‘ied ini kita sambung tali silaturrahim kita yang sudah mulai renggang atau mungkin sempat terputus, kepada orang tua kita, kepada saudara-saudara kita, kepada family tetangga kita dan lain-lain. Tidak hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala kita mohon ampun, namun kepada saudara-saudara juga kita memohon maaf atas kesalahan yang pernah kita buat, namun disini ada beberapa hal yang harus diperhatikan, agar kesucian hari ini tidak ternodai dengan maksiat yang kita kerjakan, jangan sampai kita mengotori hari ini, hari yang suci ini, denga kesalahan-kesalahan dan dosa yang kita kerjakan, baik itu disengaja ataupun tidak, baik itu disadari ataupun tidak.

Ada beberapa hal yang mungkin sebagian kita belum mengetahuinya, atau sudah mengetahui namun tidak menyadarinya, maksiat! Salah satu maksiat yang banyak tersebar di hari raya yang banyak tidak disadari oleh kaum muslimin yaitu berjabat tangan dengan lawan jenis yang bukan mahram, ini harap diperhatikan! Mungkin banyak diantara kita yang belum tahu siapa mahram kita, siapa yang bukan mahram.

Mungkin banyak juga diantara kita yang menyangka orang-orang yang bukan mahram kita, kita menyangkanya sebagai mahram kita, ini adalah penyimpangan yang banyak terjadi.

Maka disini khatib menghimbau agar lebih berhati-hati, dan yang paling banyak seseorang terjatuh dan masih menganggap mungkin ini masih mahram, padahal para ulama telah mengkategorikannya sebagai bukan mahram. Yang pertama adalah:

  1. Ipar, kakak ipar atau adik ipar, itu bukan mahram kita, maka hendaknya kita berhati-harti agar tidak berjabat tangan, tidak berduaan atau lainnya, yang kedua adalah;
  2. Sepupu, anak dari paman kita atau bibi kita ini adalah bukan mahram. Maka hendaknya kita menjaga diri darinya.

Bukan berarti tatkala kita tidak bersalaman dengannya lantas kita dianggap memutus tali silaturrahim kita, Tidak! Akan tetapi kita tetap diperintahkan bergaul dengan seluruh manusia, dengan seluruh hamba Allah, sesuai dengan batasan-batasan yang telah diatur oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Dan yang terakhir, ikhwatal iman.. rahimani warahimakumullah..

Kita memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar senantiasa memberikan kepada kita petunjuk dan taufik, untuk tetap beramal.. beramal shalih setelah Ramadhan ini, semoga amalan kita di bulan Ramadhan yaitu amalan shaat malam, membaca Al-Qur’an, bershadaqah, dan lainnya diterima oleh Allah, semoga kita diberikan keistiqomahan serta diberi keistimewaan untuk bertemu kembali dengan Ramadhan di tahun-tahun yang mendatang.

Mari kita tutup khutbah ‘iedul fithri ini dengan doa, semoga Allah perkenankan setiap doa kita dihari yang penuh kebaikan dan berkah ini.

Ya Allah… Ya Rabb… Di saat-saat yang syahdu ini kami segenap hamba-hambaMu berkumpul bersimpuh ditempat yang suci dan penuh rahmat ini, menyebut namaMu yang agung, berdzikir dan bermunajat kepadaMu dengan takbir, tahmid dan tahlil..

Duhai Rabb yang maha penyayang, sayangilah para guru-guru kami, ustadz-ustadz kami, lindungi dan bimbinglah mereka ya Allah, lapangkan rejekinya, lapagkan jalannya dan kuatkan ‘azzam nya.
Ya Allah ya Rabb, bersihkanlah jiwa ini dari hasad, dari sifat dengki..

Persatukan jiwa-jiwa ini dalam cinta karenaMu ya Allah, dalam ketaatan kepadaMu, dan jangan Engkau biarkan syaithan menggerogoti persaudaraan kami ya Allah..

Ya Allah ya Rabb, berikanlah bimbinganMu untuk pemimpin negeri ini, agar dapat berlaku adil dengan syari’atMu, diatas bumi yang tidak sejengkalpun melainkan milikMu ya Allah..

Duhai Yang maha menyelamatkan, Engkau pelindung kami, Engkau pemberi petunjuk orang-orang yang bingung, Engkau pemberi kecukupan orang-orang yang kekurangan, Engkau pemberi ketenangan orang-orang yang gelisah.

Ya Allah, yang sakit Engkau sembuhkan, yang lupa Engkau ingatkan, yang gelisah Engkau tenteramkan, yang sedih Engkau gembirakan, yang meminta Engkau beri dan kabulkan ya Allah, segala puji bagiMu ya Rabb..

Ya Allah, ampuni kami atas dosa dan kekhilafan kami kepada kedua orang tua kami ya Allah.. kepada suami kami, kepada istri kami, kepada anak-anak kami, kami belum mampu mendidik dan membahagiakan mereka ya Allah..

Ya Allah ya Rabbi, yang mengetahui segala keburukan aib dan maksiat, ampuni seburuk apapun masa lalu kami ya Allah, tutupi seburuk apapun aib-aib kami ya Rabb. Ya Allah.. karuniakanlah kami jasad yang terpelihara dari maksiat, terpelihara dari harta yang haram, makanan yang haram, minuman yang haram, pakaian yang haram, dan dari perbuatan yang haram.

Izinkan jasad ini pulang kelak menjadi jasad yang bersih ya Allah.. Ya Allah, bukakanlah lembaran-lembaran baru yang bersih yangmenggantikan masa lalu kami.

Ya Allah, Rabb yang maha penyayang.. sayangi kami ya Allah, sayangi kedua orang tua kami yang telah berpeluh, lelah merawat kami, ampuni setiap kata keras kami yang pernah terlontar pada mereka ya Allah, ampuni sikap tak peduli kami atas mereka ya Allah, ya Rabb.. berikan kesempatan kepada kami untuk berbakti kepada mereka ya Allah, lembutkan hati mereka untuk kami agar ridha mereka mengantarkan kami kepada ridhaMu ya Allah… izinkan kami untuk mengantarkan mereka ke tanah suci, ke Makkah Al-Mukarramah, ke Madinah Al-Munawwarah sebelum wafat mereka ya Allah.

Dan jikalau engkau telah mengambil mereka keharibaanMu, maka basuhlah mereka dengan ampunan dan rahmatMu ya Rabb… serta pertemukanlah kami dengan mereka dalam keabadian nikmat surga.

Ya Rabb… bukakanlah pintu hati kami, agar selalu sadar bahwa hidup ini hanyalah mampir sejenak, hanya Engkau yang tahu ya Allah kapan ajal menjemput kami, jadikanlah sisa umur kami menjadi jalan kebaikan untuk ibu bapak kami ya Allah, jadikanlah kami anak yang shalih dan shalihah yang dapat memuliakan ibu bapak yami ya Allah.

Ya Allah ya Rabbi… jadikanlah Al-Qur’an menjadi penghias hati kami ya Allah.. cahaya di dalam dada kami, pelipur duka lara kami ya Allah, syafa’at bagi kami di yaumil akhir kelak.

Ya Allah berikanlah kepada kami taufik selepas Ramadhan ini untuk senantiasa mengamalkan kebaikan, meninggalkan kemungkaran dan mencintai orang-orang miskin dan orang-orang yang lemah diantara kami.

Ya Rahmaan,, ya Rahiim.. Kami memohon kepadaMu ya Allah dengan kehinaan yang ada pada diri kami, dan keagungan dan kemuliaan sempurna yang ada pada diriMu, tolonglah saudara-saudara kami di bumi Suriah ya Allah.. di bumi Burma ya Allah.. di bumi Palestina ya Allah, dan disetiap tempat. Berikan kesabaran atas mereka, berikan kemenangan kepada mereka dari musuh-musuh mereka ya Allah..

Allahummagfir lanaa, walil muslimiina wal muslimaat, wal mu-miniina wal mu-minaat.. al ahyaa-i minhum wal amwaat.

Rabbanaa zhalamnaa anfusanaa, wa illam taghfir lanaa watarhamnaa lanakuunannaa minal khaasiriin..

Rabbanaa ya Allah.. aatinaa fid dun-ya hasanah, wafil aakhirati hasanah wa qinaa ‘adzaabannaar..
Wa shallallahu wa sallama ‘alaa nabiyyinaa Muhammad, wa ‘alaa aalihi wa shahbihii ajma’iin.

Taqabbalallahu minna wa minkum,
‘ieedukum mubaarak, wa ja’alakum minal ‘aaidiina wal faa-izin. Kullu ‘aamin wa antum bi khair..
Wa aakhiru da’waana, anil hamdu lillahi rabbil ‘aalamiin.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh..

_______

NB: Khutbah diatas adalah salinan dari isi khutbah yang disampaikan oleh Ust. Heri Suheri, pada 1 Syawwal 1438 H – 2017 M, di Perum Griya Asri 1

Silahkan download audionya pada link berikut:
DOWNLOAD

Tentang admin

Baca Juga Artikel Berikut

Kenapa Harus Kelas Premium?

Tak terasa Qothrunnadaa Learning Centre yang merupakan salah satu Pusat Pembelajaran Al-Qur’an dan Bahasa Arab …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.