Sabtu , 28 November 2020

Keutamaan Kitab Suci Al-Qur’an

Kitab suci Al-Quran memiliki banyak keutamaan bila dengan kitab selainnya, baik itu dengan kitab-kitab suci yang diturunkan sebelum Al- Quran, seperti Taurat dan Injil, atau dengan kitab-kitab yang disusun setelahnya seperti kitab hadits dan tafsir.
Di antara beberapa keutamaan Al- Qur’an dibandingkan kitab yang lain adalah:

1. Al-Quran adalah kitab yang mulia yang tidak ada kebathilan padanya

Allah subhanahu wata’ala berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِالذِّكْرِ لَمَّا جَاءَهُمْ ۖوَإِنَّهُ لَكِتَابٌ عَزِيزٌ

لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ ۖتَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari Al Quran ketika Al Quran itu datang kepada mereka, (mereka itu pasti akan celaka), dan sesungguhnya Al Quran itu adalah kitab yang mulia”
[QS. Fushshilat, 41: 41]

Yang tidak datang kepadanya (Al Quran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji
[QS. Fushshilat, 41: 42]

2. Al-Quran adalah Kitab yang Tidak Ada Keraguan Padanya

Allah subhanahu wata’ala berfirman :

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

“Itulah kitab Al-Quran yang tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi orang-orang bertakwa.”
[QS. Al-Baqarah, 2: 2]

3. Al-Quran adalah Kitab yang Terpelihara dan Terjaga

Allah subhanahu wata’ala berfirman :

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Quran dan pasti Kami pula yang menjaganya.”
[QS. Al-Hijr, 15 : 9]

Selain penjagaannya yang dijamin oleh Allah subhanahu wata’ala, nilai mukjizat itu juga terletak pada fashahah dan balaghahnya, keindahan susunan dan gaya bahasanya, serta isinya yang tiada tara bandingannya. Mustahil manusia dapat membuat susunan yang serupa dengan Al Qur’an. Allah subhanahu wata’ala sendiri telah menantang melalui kitab-Nya terhadap orang-orang atau jin yang berupaya menandingi firman-Nya dengan mengatakan: Kendati pun berkumpul jin dan manusia untuk membuat yang serupa dengan Al Qur’an, mereka tidak akan dapat membuatnya.

Allah subhanahu wata’ala berfirman :

قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَىٰ أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَٰذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا

”Katakanlah: Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Qur’an ini, niscaya tidak mereka akan dapat membuatnya walaupun sebagian mereka membantu sebagian (yang lain).” (QS. Al-Israa’ [17]: 88)

Beberapa kisah dalam Sirah Nabawiyah meriwayatkan keindahan susunan dan gaya bahasa Al Qur’an yang mampu menundukkan hati para sastrawan kafir Arab. Seperti dikisahkan dalam salah satu riwayat berikut ini :

Ketika beberapa pemimpin Quraisy berkumpul merundingkan caraa-cara menaklukkan Rasulullah saw., mereka bersepakat mengutus Abu Walid, seorang sastrawan Arab yang hampir taktertandingi di seluruh jazirah Arab, untuk meminta Rasulullah meninggalkan dakwahnya. Tawaran yang diberikan pun tidak main-main. Rasulullah akan diberi pangkat, harta, dan apa pun yang dikehendaki. Ketika menghadap Rasulullah, Abul Walid mendengar Rasulullah saw membacakan surat Fushilat dari awal sampai akhir, yang diantaranya berbunyi :

حم
تَنزِيلٌ مِّنَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

كِتَابٌ فُصِّلَتْ آيَاتُهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لِّقَوْمٍ يَعْلَمُونَ 

بَشِيرًا وَنَذِيرًا فَأَعْرَضَ أَكْثَرُهُمْ فَهُمْ لَا يَسْمَعُونَ

وَقَالُوا قُلُوبُنَا فِي أَكِنَّةٍ مِّمَّا تَدْعُونَا إِلَيْهِ وَفِي آذَانِنَا وَقْرٌ وَمِن بَيْنِنَا وَبَيْنِكَ حِجَابٌ فَاعْمَلْ إِنَّنَا عَامِلُونَ

”Haa Miim, diturunkan dari Dzat yang Maha Rahman dan Rahiim, Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan tetapi kebanyakan dari mereka berpaling (darinya); maka mereka tidak (mau) mendengarkan. Mereka berkata: Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang engkau seru kami kepadanya dan di telinga kami ada sumbatan dan antara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu; Sesungguhnya kami bekerja (pula).” (Q.S. Fushilat [41]: 1-5)

Mendengar ayat-ayat Allah tersebut, Abul Walid tak mampu berkata-kata. Tertarik dan terpesonalah hati Abul Walid pada keindahan dan gaya bahasa Al-Qur’an. IHati dan akanya termenung-menung seraya membenarkan, tetapi hawa nafsunya menolak. Abul Walid pun kembali kepada kaumnya dan tak mampu berkata sepatah kata pun di hadapan Rasulullah saw.

Seketika Kaumnya yang menunggu merasa gelisah, semakin gundah gulana melihat wajah Abul Walid yang terlihat tak seperti biasanya. ”Apa hasil yang engkau bawa, wahai Abul Walid? Mengapa engkau bermuram durja?”

Abul Walid menjawab, ”Aku belum pernah mendengar kata-kata seindah itu, seumur hidupku. Itu bukan syair, bukan sihir, dan bukan kata-kata ahli tenung. Bahwa sesungguhnya Al Qur’an itu ibarat pohon yang daunnya rindang, akarnya terhujam ke dalam tanah, susunannya manis dan enak didengar. Itu bukan kata-kata manusia, ia adalah tinggi dan tiada yang mengatasi.”

Saat Mendengar jawaban Abul Walid tersebut, kaumnya menuduh Abul Walid telah berkhianat dan cenderung kepada Agama Islam.

Sebagian besar dari pada ahli syair serta sastra arab memberikan reaksi bungkam atas tantangan dari Allah didalam ayat Al-Qur’an tersebut, mereka diam sejuta bahasa tanpa mampu berkata-kata, tidak ada yg memiliki keberanian untuk tampil didepan orang-orang, dikarenakan mereka tidak sanggup,takut terhadap cemoohan dan kehinaan kepada diri mereka. Akan tetapi sebagian dari yang lainnya memberanikan diri menirukan Al Qur’an dan mengangkat dirinya sendiri sebagai nabi baru. Orang-orang tersebut di antaranya adalah Musailamah Al-Kadzab, Thulaihah, dan Habalah bin Kaab. Namun, mereka semua hanya mempersembahkan kegagalan, cemooh, dan hinaan kaumnya sendiri.

Salah satu orang yg ingin menandingi Al-Qur’an adalah Musailimah Al-Kadzdzab, dengan salah satu karyanya yaitu :

”Yaa dhifda’u dhifda ’aini, naqyii maa tunaqiina, a’laaki fil maa’i, wa asfalaki fiith thiini”

”Wahai kodok anak dari dua kodok, bersihkanlah apa-apa yang engkau bersihkan, bagian atas engkau di air dan bahagian bawah engkau di tanah.”

Salah seorang sastrawan Arab yang cukup masyur yaitu, al-Jahiz, memberikan penilaian atas gubahan Musailimah Al-Kadzdzab tersebut dalam bukunya ”al-Hayawan”. Katanya, saya tidak mengerti apa yang menggerakkan jiwa Musailamah menyebut katak dan sebagainya itu. Alangkah kotornya gubahan yang dikatanya sebagai ayat Al Qur’an dan dikatakannya turun sebagai wahyu.

Syekh Muhamad Abdul dalam kitabnya ”Rasaalatut Tauhid”, menjelaskan bagaimana ketinggian dan kemajuan bahasa Arab pada masa turunnya Al Qur’an. Al Qur’an diturunkan pada suatu masa–yang telah sepakat ahli-ahli riwayat berkata– yang amat gemilang. Itu ditinjau dari kemajuan bahasanya. Pada masa itu, banyak sekali terdapat ahli-ahli sastera dan ahli-ahli pidato.

Kemudian ia berkata tentang tantangan Al Qur’an terhadap ahli-ahli sastra tersebut. Sungguh benar, bahwa diturunkannya Al Qur’an merupakan mukjizat, telah berlalu masa-masa yang sangat panjang, telah silih berganti datangnya angkatan demi angkatan sastrawan. Al Qur’an tetap berlaku, tak seorang pun yang dapat menandinginya dan menjawab tantangannya. Semua kembali dengan tangan hampa, karena memang lemah dan tiada daya.

Ia juga berkata: Bukankah lahirnya Al Qur’an dibawa oleh seorang yang buta huruf? Mukjizat dari dan ketetapan dari allah Subhanahu wata’ala yang sulit untuk ditentang kebenarannya oleh siapapun itu, membuktikan bahwa Al Qur’an sama sekali bukan buatan manusia.

Tentang Dimas Shandy

Alumnus Ma'had Nurussalam dan Alumni SMA Multi Istiqlal. Founder & CEO Pusatilmupengetahuan.com, Saintek.id, Pusilpen.onlineSemoga Allah mengampuninya dan mengampuni kedua orang tuanya. Amiin..

Baca Juga Artikel Berikut

Keutamaan Mempelajari dan Mengajarkan Al-Qur’an

Al-Qur’an adalah kalamullah yang allah turunkan kepada Rosullah shallahu’alaihi wassalam sebagai petunjuk seluruh umat manusia …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.