Kamis , 17 Juni 2021

Kesempurnaan Mengucapkan Harakat

Dalam bahasa Arab, terdapat tiga harakat asli yang berfungsi untuk membunyikan huruf-huruf dengan jelas. Ketiga harakat itu adalah fathah (berbunyi “a”), kasrah (berbunyi “i”) dan dhammah (berbunyi “u”). Ketiga harakat ini mesti diucapkan dengan sempurna agar tidak terjadi perubahan bunyi yang menyebabkan tidak sempurnanya setiap huruf yang diucapkan. Walaupun hal tersebut tidak mengubah makna Al-Qur’an, namun hal itu mengubah keaslian Al-Qur’an, karena Al-Qur’an diturunkan bersamaan dengan tata cara membacanya sebagaimana telah diuraikan.

Berkaitan dengan kesempurnaan harakat, Al-Imam Ahmad bin Badruddin Ath-Thiibi (w. 979 H) berkata dalam Manzhumah Al-Mufiid Fii Ilmit Tajwiid:

  وكُلُ مَضْمُوْمٍ فَلَنْ يَتِمَّا إِلَّا بِضَمِّ ٱلشَّفَتَيْن ضَمَّ

 وَذُو ٱنِْخفَاضٍ بِانْخِفَاضٍ لِلْفَم يَتِمُّ وَٱلْمَفْتُوْحُ بِالْفَتْحِ ٱفْهَم

“Dan setiap dhammah tidak akan sempurna, kecuali dengan benar- benar memonyongkan kedua bibir,

dan kasrah dengan merendahkan rahang akan sempurna, dan fathah dengan membukanya, fahamilah!”

Beberapa kesalahan begitu sering terjadi pada saat seseorang, khususnya non-Arab- saat mengucapkan harakat, di antaranya:

1. Menebalkan harakat pada huruf-huruf yang seharusnya diucapkan tipis, khususnya pada saat mengucapkan fathah dan dhammah.

  1. Menipiskan harakat pada huruf-huruf yang seharusnya diucapkan tebal, khususnya pada saat kasrah.

  2. Memiringkan suara hingga fathah tidak terucap dengan jelas, berada di antara “a” dan “i”, menyerupai vokal “eu” atau bahkan “e”.

  3. Mengalirkan suara melalui rongga hidung, padahal sebagaimana telah diuraikan, bahwasanya rongga hidung adalah kekhususan bagi “Mim” (suara “m”) dan “Nun” (suara “n”).

  4. Menahan suara, sehingga bacaan terdengar seperti menggumam.

  5. Berlebihan atau kurang dalam membuka rahang, menariknya, atau memonyongkannya.

Untuk mengatasinya, kita bisa melakukan dan melatih beberapa hal berikut:

  1. Hendaknya melepaskan suara dan tidak menahannya agar harakat terasa jelas diucapkan, namun tetap menjaganya agar tidak berlebihan.

  2. Memahami huruf-huruf tipis dan tebal, agar kita bisa menjaga kesempurnaan harakat pada huruf-huruf tersebut. Sedangkan ukuran tipis dan tebalnya adalah ukuran orang Arab, bukan ukuran menurut kita sendiri.

  3. Pada huruf-huruf tipis, kesempurnaan harakat fathah adalah dengan membuka rongga mulut sambil menarik rahang pada posisi seperti kasrah. Suara yang dihasilkan mungkin akan terasa asing bagi sebagian orang –khususnya di Indonesia- karena “A”-nya lebih tipis dan berbeda dengan “A”-nya orang Indonesia pada umumnya.

  4. Menjaga ketipisan huruf-huruf tipis pada saat dhammah adalah dengan tidak terlebih dahulu memonyongkan bibir pada saat huruf diucapkan melainkan diucapkan dulu pada posisi hampir fathah, baru didorong sambil memonyongkan bibir. Sedangkan pada saat sukun, adalah dengan menarik rahang seperti kasrah saat huruf tersebut diucapkan.

  5. Menjaga ketebalan huruf-huruf tebal adalah dengan mengangkat lidah ke arah langit-langit.

  6. Melatihnya dengan menutup hidung kita agar suara bisa mengalir sempurna melalui rongga mulut.

  7.  Hendaklah kita menyempurnakan bacaan dengan berlatih dan bertalaqqi dengan para Masyaikh dan Asatidz yang mutqin.

Gambar 1: Posisi mulut untuk mencapai kesempurnaan harakat fathah

Gambar 2: Posisi mulut untuk mencapai kesempurnaan harakat kasroh

Gambar 3: Posisi mulut untuk mencapai kesempurnaan harakat dhommah

Gambar 4: Posisi mulut untuk mencapai kesempurnaan harakat sukun

Tanbih!

Syaikh Ayman Rusydi Suwaid hafizhahullah dalam kitabnya yang fenomenal; At-Tajwiid Al-Mushawwar berkata:

“Harokat dhommah asalnya adalah huruf wawu yang dipendekkan, harokat fathah asalnya adalah alif yang dipendekkan, dan harokat kasroh asalnya adalah huruf ya yang dipendekkan. Oleh karena itu, suara harakat harus sesuai dengan suara huruf asalnya yang merupakan huruf-huruf mad, hanya saja durasi pada harakat dibaca lebih pendek. Maka tatkala kita melafalkan huruf yang berharakat pada hakikatnya kita melakukan dua aktivitas:

  1. Kita mengeluarkan huruf dari makhraj aslinya tanpa ada tambahan panjang pada durasinya.
  2. Kemudian diiringi -secara langsung- oleh makhraj asli harakat.

-selesai ucapan beliau hafizhahullah-

Demikian pembahasan tentang Kesempurnaan Dalam Mengucapkan Harakat, semoga bermanfaat.

Tentang Heri Suheri

Founder Qothrunnadaa Learning Centre. Alumni Ma'had Ihyaa Assunnah Tasikmalaya jurusan TBA (Takhassus Bahasa Arab) tahun 2009 dan Ma'had 'Aly Assunnah Medan (sekarang STAI As-Sunnah) tahun 2012. Berpengalaman lebih dari sepuluh tahun mengajar bahasa Arab bagi pembelajar pemula. Semoga Allah mengampuninya dan mengampuni kedua orang tuanya. Amiin

Baca Juga Artikel Berikut

Rukun Qiro'ah Al-Quran

Rukun Qiro’ah Al-Quran

Qothrunnadaa.com – Rukun Qiro’ah Al-Quran | Melanjutkan tulisan sebelumnya yaitu tentang tingkatan dalam membaca Al-Quran, …

2 Komentar

  1. Insan Pembelajar

    assalamu’alaikum mas. ijin copas buat bahan tulisan. jazakumullaah khairan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.