Rabu , 1 Juli 2020

Isti’adzah dan Basmalah

Kita semua tentunya sebagai kaum muslim tentunya pasti mengenal bacaan yang satu ini, bahkan seringkali kita kita membacanya, baik ketika hendak membaca al-qur’an dan lain sebagainya, berikut uraiannya:

Hukum Syar’i Isti’adzah dan Basmalah

Isti’adzah atau juga biasa dikenal dengan istilah ta’awwudz secara bahasa adalah memohon perlindungan, pemeliharaan dan penjagaaan.

Sedangkan menurut istilah maksudnya adalah ‘lafazh yang dimaksudkan oleh seorang Qori (orang yang membaca Al-Qur’an) untuk memohon atau meminta penjagaan,pemeliharaan dan perlindungan kepada allah dari berbagai macam bentuk godaan-godaan setan.

Lafadz nya adalah sebagai berikut:

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“Aku memohon perlindungan kepada Allah dari Setan yang terkutuk”

Sebelum membaca Al-Quran, baik itu pada awal surat atau tengah surat, didalam sholat atau diluar sholat.

Allah subhanahu wata’ala berfirman :

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“Apabila kamu hendak membaca Al-Quran, maka mintalah perlindungan kepada Allaah dari setan yang terkutuk.” [QS. An-Nahl : 98]

Para ulama berbeda pendapat, apakah perintah tersebut menunjukkan kewajiban atau keutamaan. Lafazh isti’adzah sendiri memiliki beberapa variasi yang boleh dibaca,diantaranya: 

Bacaan pertama

 أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيم

“Aku memohon perlindungan kepada allah dari setan yang terkutuk”

Para Ulama yang memilih bacaan ini diantaranya yaitu :  Imam Syafi’i, Abu Hanifah, dan Mayoritas Ahlu Qura’ (orang-orang yang ahli dalam Al-Qur’an) berdalil dengan ayat Al-Qur’an berikut :

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“Apabila kamu hendak membaca Al-Quran, maka mintalah perlindungan kepada Allaah dari setan yang terkutuk.” [QS. An-Nahl : 98]

adapun dalil yang berasal dari Hadist untuk lafadz tersebut yaitu perkataan syeikh Al-bani “adapun bacaan isti’adzah yang hanya /a’uudzubillaahi minas syaithaanir rajiim/ saja, saya tidak menemukan satu hadits pun. Ya Allah..! Kecuali riwayat (mursal) yang ada dalam kitab Marasil Abu Daud, dari Al Hasan Al Bashri” (Ashlu Sifati Shalatin Nabi Lil Albani, 275).

Namun terdapat atsar dari Umar bin Khattab radhiallahu’anhu bahwa beliau biasa membaca lafadz ini. Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya (2455),

حَدَّثَنَا حَفْصٌ ، عَنِ الْأَعْمَشِ ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ ، عَنِ الْأَسْوَدِ ، قَالَ : افْتَتَحَ عُمَرُ الصَّلَاةَ ثُمَّ كَبَّرَ , ثُمَّ قَالَ : ” سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ “

“Hafsh menuturkan kepadaku, dari Al A’masy, dari Ibrahim, dari Al Aswad, ia berkata: Umar memulai shalatnya, kemudian bertakbir, lalu ia mengucapkan /subhaakallahumma wabihamdika wa tabaarakasmuka wa ta’aala jadduka wa laa ilaaha ghairaka/ lalu /a’uudzubillaahi minas syaithaanir rajiim/ lalu /alhamdulillahi rabbil’alamin/”

Bacaan Kedua

أَعُوذُ بِاللَّهِ اْلسَّمِيْعِ اْلْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“Aku memohon kupada allah yang maha mendengar lagi maha mengetahui ,dari setan yang terkutuk”

diantara para ulama yang memilih bacaan tersebut diantaranya adalah Imam Ahmad, Al A’masy, Al Hasan bin Shalih, Nafi’ dan Ibnu ‘Umar.
Bacaan ini terdapat dalam riwayat yang dikeluarkan Abdurrazaq dalam Mushannaf-nya (2554),

عَنْ جَعْفَرِ بْنِ سُلَيْمَانَ , عَنْ عَلِيِّ بْنِ عَلِيٍّ الرِّفَاعِيِّ , عَنْ أَبِي الْمُتَوَكِّلِ النَّاجِيِّ , عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ , قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَاسْتَفْتَحَ صَلاتَهُ كَبَّرَ , ثُمَّ قَالَ : سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ , تَبَارَكَ اسْمُكَ , وَتَعَالَى جَدُّكَ , وَلا إِلَهَ غَيْرُكَ , ثُمَّ يُهَلِّلُ ثَلاثًا وَيُكَبِّرُ ثَلاثًا , ثُمَّ يَقُولُ : أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ “

Dari Ja’far bin Sulaiman, dari Ali bin Ali Ar Rifa’i dari Abul Mutawakkil An Nahi dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata, biasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ketika hendak shalat malam beliau membuka shalatnya dengan bertakbir, lalu mengucapkan subhaakallahumma wabihamdika wa tabaarakasmuka wa ta’aala jadduka wa laa ilaaha ghairaka, kemudian membaca tahlil 3x dan takbir 3x lalu mengucapkan a’uudzubillaahis samii’il ‘aliimi minas syaithaanir rajiim”.

Bacaan Ketiga

أَعُوذُ بِاللَّهِ اْلْعَظِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“Aku memohon perlindungan kepada allah yang maha agung dari setan yang terkutuk”

sebagian ulama yang lain sepakat berpendapat dengan cara lafadz bacaan diatas tersebut.

Dari ketiga bacaan tersebut, cara yang paling utama menurut mayoritas ulama adalah cara yang pertama, yaitu : 

 أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيم

Sedangkan mengenai hukum isti’adzah atau ta’awwudz, maka para ulama telah berbeda pendapat dalam beberapa pendapat untuk permasalahan ini.

Dr. Wahbah Az-Zuhaili dalam kitab Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu (Fiqih Islam dan Dalil-dalilnya) telah menghimpun pendapat dari 4 madzhab tentang hal ini. Berikut penjelasan beliau : 

Ulama Malikiyah berpendapat makruh membaca ta’awwudz dan basmalah sebelum Al-Fatihah dan surat (selain Al-Fatihah), bardasarkan hadits Anas yang menyatakan bahwa nabi shallahu’alaihi wassalam, Abu Bakar dan Umar memulai shalat dengan ucapan Alhamdulillahirabbil ‘alamin. Hadits ini muttafaq ‘alaih.

Ulama dari kalangan Hanafiyah berpendapat sunnah membacata’awwudz hanya pada raka’at pertama saja.

Sedangkan Syafi’iyah dan Hanabilah berpendapat sunnah membaca ta’awuwdz secara sirr (suarapelan) pada awal setiap raka’at sebelum membaca Al-Fatihah. Wallaahua’lam.

Adapun basmallah artinya mengucapkan : 

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

“dengan menyebut nama allah yang maha pengasih,maha penyayang”

Membaca basmalah sangat dianjurkan sebelum membaca setiap awal surat selain surat At-Taubah. Apabila seseorang memulai bacaan dari pertengahan Al-Quran selain surat At-Taubah, maka ia berada dalam pilihan, boleh membacanya atau tidak.

Namun, ada beberapa tempat yang tidak diutamakan membaca basmalah, yakni ayat-ayat yang awalnya berhubungan dengan orang kafir, munafik, neraka, dan setan-setan.

Bila kita membaca pada pertengahan surat yang awal ayatnya berhubungan dengan semua itu, lebih utama tidak membaca basmalah.

Sedangkan bila membaca pertengahan surat yang awal ayatnya adalah kata “Allaah” atau dhamir (kata ganti) yang kembali kepada Allaah, diutamakan bagi kita mengucapkan basmalah sebelum membaca ayat tersebut. Misalnya sebelum kita membaca Ayat Kursi yang awal ayatnyaadalah kata “Allaah”.

Hukum Basmalah dan Surat Al-Fatihah

Para ulama berbeda pendapat mengenai status “basmalah”. Apakah ia termasuk dalam ayat pada surat Al-Fatihah atau bukan.

Dalam hal ini ada tiga pendapat: 

Basmalah bukan bagian dari Al-Quran kecuali ayat ke-30 Pada surah An-Nam

Ini pendapat Al-Imam Malik dan sekelompok ulama Hanafiyah. Juga dinukilkan oleh sebagian pengikut Al-Imam Ahmad dalam sebuah riwayat dari beliau bahwa ini madzhab beliau.

Basmalah adalah ayat dari setiap surah atau sebagian surat

Ini madzhab Al-Imam Syafi’i dan yang mengikuti beliau. Akan tetapi, dalam sebuah penukilan dari beliau disebutkan bahwa basmalah bukan ayat di permulaan setiap surah kecuali Al-Fatihah.

Sedangkan surah lain hanyalah dibuka dengan basmalah untuk tabarruk (mencari berkah).

Basmalah adalah bagian dari Al-Quran

Namun dia bukan termasuk bagian surah, tetapi ayat yang berdiri sendiri dan dibaca di awal setiap surah Al-Quran kecuali surah At-Taubah, sebagaimana nabi shallahu’alaihi wassalam membacanya ketika diturunkan kepada beliau surah Al-Kautsar seperti yang diriwayatkan Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya.

Ini merupakan pendapat Al-Imam Abdullah ibnul Mubarak, Al-Imam Ahmad, dan Abu Bakr ar-Razi -beliau menyebutkan bahwa inilah yang diinginkan oleh madzhab Abu Hanifah-.

Pendapat Para Ulama

Berkaitan dengan kedudukan basmalah dalam Surat Al-Fatihah dan membacanya dalam shalat, maka para ulama berbeda pendapat:

1) Para Imam Qari Madinah, Basrah, Syam, Fuqaha Hanafiyah dan Malikiyah mengatakan bahwa basmalah bukan merupakan bagian dari surat Al-Fatihah.
Ulama Malikiyah mengatakan makruh mengucapkan basmalah dalam shalat, baik jahr (jelas) ataupun sirr (pelan).
Sedangkan ulama Hanafiyah mengatakan sunnah membacanya dalam shalat dengan sirr.

2) Fuqaha Hanabilah mengatakan bahwa basmalah merupakan bagian dari Surat Al-Fatihah dan sunnah dibaca di dalam shalat dengan sirr.

3) Fuqaha Syafi’iyyah mengatakan bahwa basmalah merupakan bagian dari Surat Al-Fatihah dan harus dibaca dengan jahr pada saat shalat.

Perbedaan pendapat tersebut didasari pada perbedaan menentukan ayat pertama dan terakhir pada Surat Al-Fatihah.

Bagi yang mengatakan bahwasanya basmalah bukan bagian dari Surat Al-Fatihah menentukan bahwasanya ayat terakhir surat  al-fatihah adalah:

غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

“bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat” [Quran 1:7]

Karenanya, para ulama yang mengatakan bahwasanya basmalah merupakan bagian dari Surat Al-Fatihah –termasuk Al-Imam ‘Ashim di dalamnya memilih untuk membaca ayat terakhir sekaligus :

صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ ٱلْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ

“(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat” [Quran 1:7]

Hal ini adalah untuk membedakan cara membaca dengan Qiraah yang menyatakan bahwa basmalah bukan termasuk bagian dari Surat Al- Fatihah.

 Ta’awwudz, Basmalah, dan Awal Surat Selain At-Taubah

Asy-Syaikh ‘Utsman bin Sulaiman Murad ‘Ali Agha (1316-1382 H) berkata dalam Matan As-Salsabilusy Syaafi :

يَجُزُ إِنْ ثَرَعْتَ فِى اْلْقِرَاءَةِ
أَرْبَعُ أَوْجُهٍ لِلاِسعتِعَاذَةٍ
قَطْعُ اْلْجَمِيْعِ ثُمًّ وَصْلُ اْلثًانِى
وَوَصْلُ أَوَّلٍ وَوَصْلُ اْثْنَانِ

Cara Membaca Isti'adzah

Diperbolehkan bagimu saat akan memulai membaca Al-Quran, empat cara dalam membaca isti’aadzah.

qath’ul jamii’

Yakni memutuskan semuanya, maksudnya adalah membaca isti’aadzah, kemudian waqaf,kemudian membaca basmalah, kemudian waqaf, kemudian membaca awal surat.

washluts tsaani

Yakni menyambung yang kedua, maksudnya adalah membaca isti’aadzah, kemudian waqaf, kemudianmembaca basmalah dengan awal surat.

washlu awwalin

Yaitu menyambung yang pertama,maksudnya menyambung bacaan isti’aadzah dan basamalah, kemudianwaqaf, kemudian membaca awal surat.

washlutsnaani

Yakni menyambung keduanya, maksudnya adalah menyambung bacaanisti’aadzah, basmalah, dan awal surat sekaligus tanpa waqaf.

Simpulan beberapa cara yang diperbolehkan adalah:

  1. Qath’ul Jamii’. Memisahkan ta’awwudz, basmalah, dan awal surat.

  2. Washluts Tsaani. Memisahkan ta’awwudz dari basmalah, dan menyambung basmalah dengan awal surat.

  3. Washlu Awwalin. Menyambung ta’awwudz dan basmalah, lalu berhenti sebelum memulai awal surat.

  4. Washlutsnaani atau washlul jamii’. Menyambung ta’awwudz, basmalah, dan awal surat sekaligus.

    Dari keempat cara tersebut, yang paling afdhal adalah cara yang pertama, yakni dengan memisahkan semuanya.

Ta’awwudz Sebelum Surat At-Taubah

Cara membaca ta’awwudz sebelum surat At-Taubah dapat dilakukan dengan beberapa wajah, yakni:

Memisahkan ta’awwudz dengan awal surat At-Taubah, tanpa diselingi basamalah

Menyambungkan ta’awwudz dengan awal surat At-Taubah

Para ulama berbeda pendapat mengenai alasan mengapa surat At-Taubah tidak diawali dengan basmalah.

Di antara beberapa pendapat tersebut adalah:

1) Hal tersebut bersifat tauqifiy (given), karena Al-Quran adalah wahyu,dimana Allaah جل جلاله yang memiliki hak prerogatif terhadap hal tersebut.

2) Bahwa surat At-Taubah berisi keberlepasan diri dari Allaah جل جلاله kepada orang-orang kafir dan pernyataan perang. Sedangkan basmalah berkaitan dengan aman, damai, dan ketenangan.

3) Bahwa Surat At-Taubah masih bagian dari Surat Al-Anfal.

Basmalah Di Antara Dua Surat

Saat membaca akhir pada satu surat lalu kita ingin melanjutkan dengan surat selanjutnya, maka beberapa cara berikut boleh dilakukan.

Sebagaimana perkataan Asy-Syaikh ‘Utsman bin Sulaiman Murad ‘Ali Agha(1316-1382 H) berkata dalam Matan As-Salsabilusy Syaafi :

وجَائِزِمِنْ هَذِهِ بَيْنَ ٱلسُوْر ثلَثة وَوَاحِدُ لَمْ يُعْتَبَرْ

فَا قْطَعْ عَلَيْهِمَاوَصِلْ ثَانِيْهِمَاوَ صِلْهُمَاوَ لاَتََصِلْ أُوْ لَاهُمَا

Dan cara-cara yang telah disebutkan, tiga di antaranya boleh dipraktikkan saat membaca dua surat, dan satu cara tidak diperbolehkan.

Cara pertama adalah memutuskan bacaan di antara kedua surat, yakni membaca akhir surat, kemudian waqaf, kemudian membaca basmalah, kemudian membaca awal surat.

Kedua adalah menyambungkan yang kedua, maksudnya adalah membaca akhir surat, kemudian waqaf, kemudian menyambungkan basmalah dengan awal surat.

Ketiga adalah menyambungkan keduanya, maksudnya adalah menyambungkan bacaan akhir surat, basmalah, dan awal surat tanpa waqaf.

Dan jangan menyambung yang pertama. Maksudnya, cara yang tidak diperbolehkan adalah menyambung akhir surat dengan basmalah, kemudian waqaf, kemudian baru membaca awal surat.

Simpulan cara membaca dua surat adalah:

1) Qath’ul Jamii’. Memisahkan akhir surat yang pertama, basmalah, dan

awal surat yang selanjutnya.

2) Washluts Tsaani. Berhenti pada akhir surat, kemudian menyambung basmalah dengan surat selanjutnya.

3) Washlul Jamii’. Menyambungkan akhir surat yang pertama, basmalah,dan awal surat yang selanjutnya, tanpa jeda.
Dari ketiga cara tersebut, yang paling afdhal adalah memisahkan semuanya.

Adapun cara yang dilarang yaitu washlu awwalin, menyambung akhir surat dengan basmalah, kemudian berhenti. Setelah itu baru memulai dengan awal surat. Cara ini tidak diperbolehkan karena agar tidak ada kesanbahwasanya lafazh “basmalah” seolah-olah merupakan bagian dari akhir surat.

Membaca Akhir Surat Al-Anfal dengan Awal Surat At-Taubah

Ada beberapa wajah cara membaca akhir surat Al-Anfal dengan awal surat At-Tawbah.

Sebagaimana perkataan Asy-Syaikh ‘Utsman bin Sulaiman Murad ‘Ali Agha (1316-1382 H) berkata dalam Matan As-Salsabilusy Syaafi :

وَبَيْنَ أَنْفَلٍ وتَوّبَةٍ أَتَى 

وَصَلَ وَسَكْتٌ ثُمَّ وَقْفُ يَا فَتَى

“Dan adapun cara membaca akhir surat Al-Anfaal dengan awal surat At-Taubah adalah sebagai berikut: washal, saktah, dan waqaf wahai para pemuda”

1) Al-Washl. Yaitu menyambung akhir surat Al-Anfal dengan awal surat At-Taubah.

2) As-Sakt. Yaitu berhenti dengan saktah (berhenti sejenak tanpa bernafas) pada akhir surat Al-Anfal dan memulai At-Taubah.

3) Al-Waqf. Yaitu berhenti pada akhir surat Al-Anfal dan memulai At- Taubah tanpa basmalah.

Menyambung Awal Surat Aali ‘Imraan

Al-Waqf

Berhenti pada “mim” dengan panjang enam harakat.Kemudian memulai lafazh jalalah.

Al-Washlu bil madd

Menyambung (الم) dengan lafazh jalalah dengan memanjangkan “mim” enam harakat dan menghidupkannya dengan fathah.

Al-Washlu bil-Qashr

Menyambung (الم) dengan lafazh jalalah dengan memanjangkan “mim” dua harakat dan menghidupkannya dengan fathah.

Tentang Dimas Shandy

Alumnus Ma'had Nurussalam dan Alumni SMA Multi Istiqlal. Founder pusilpen.online/www.pusatilmupengetahuan.com Semoga Allah mengampuninya dan mengampuni kedua orang tuanya. Amiin..

Baca Juga Artikel Berikut

Keutamaan Mempelajari dan Mengajarkan Al-Qur’an

Al-Qur’an adalah kalamullah yang allah turunkan kepada Rosullah shallahu’alaihi wassalam sebagai petunjuk seluruh umat manusia …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.