Senin , 18 Oktober 2021

Hukum Beriltizam dengan Tajwid

Para Ulama Qurra (Ahli Qiraat) berbeda pendapat mengenai hukum beriltizam (berpegang teguh/ mengamalkan) dengan tajwid. Sebagian ulama Qurra mewajibkan secara mutlak membaca Al-Quran dengan tajwid. Mereka menjadikan QS. Al-Muzammil ayat ke-4 sebagai hujjah (alasan) untuk menguatkan pendapat tersebut. Hal ini disebabkan bentuk kalimat dalam ayat tersebut bermakna perintah. Sedangkan perintah asalnya bermakna wajib kecuali ada dalil lain yang memalingkan makna tersebut.

Namun ada yang perlu teman-teman sekalian ketahui bahwa sebagian ulama lainnya mengatakan bahwa beriltizam dengan tajwid, mempraktikkannya ketika membaca Al-Quran tidak wajib. Namun pendapat ini lemah, kecuali apabila yang dimaksud tidak wajib adalah pada kaidah-kaidah tajwid yang bila ditinggalkan tidak mengubah makna.

Hukum Beriltizam dengan Tajwid

Golongan yang ketiga merinci hukum beriltizam dengan tajwid sebagai berikut :

Wajib pada Makharijul Huruf

Wajib pada Makharijul Huruf maksudnya adalah apabila seseorang meninggalkan makharijul huruf yang diwajibkan maka hal tersebut adalah sesuatu yang haram secara mutlak dikarenakan hal tersebut dapat mengubah makna maupun arti yang terkandung dalam Al-Quran pada setiap huruf maupun kalimatnya.

Kewajiban pada Sifatul Huruf

Kewajiban pada Sifatul Huruf ini sendiri terbagi menjadi dua bagian, diantaranya :

Sifat-sifat Wajib

Yaitu sifat yang apabila sifat tersebut hilang dari salah satu huruf, maka huruf tersebut akan berubah menjadi huruf yang baru. Dalam hal ini wajib beriltizam dengannya dan meninggalkan darinya adalah sesuatu yang haram.

Sifat-sifat Penghias

yakni sifat yang apabila ia hilang tidak akan mengubah huruf yang bersangkutan, seperti qalqalah atau takrir, maka beriltizam dengannya wajib pada saat talaqqi atau pengambilan sanad.
Sedangkan pada saat tilawah biasa makna kewajiban tersebut hanya berlaku bagi para Qari mutqin yang sudah benar-benar menguasai ilmu tajwid. Adapun bagi Qari awam, maka beriltizam dengannya tidak wajib, namun mengamalkannya adalah bagian sunnah.

Tentang Heri Suheri

Founder Qothrunnadaa Learning Centre. Alumni Ma'had Ihyaa Assunnah Tasikmalaya jurusan TBA (Takhassus Bahasa Arab) tahun 2009 dan Ma'had 'Aly Assunnah Medan (sekarang STAI As-Sunnah) tahun 2012. Berpengalaman lebih dari sepuluh tahun mengajar bahasa Arab bagi pembelajar pemula. Semoga Allah mengampuninya dan mengampuni kedua orang tuanya. Amiin

Baca Juga Artikel Berikut

Rukun Qiro'ah Al-Quran

Rukun Qiro’ah Al-Quran

Qothrunnadaa.com – Rukun Qiro’ah Al-Quran | Melanjutkan tulisan sebelumnya yaitu tentang tingkatan dalam membaca Al-Quran, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.