Kamis , 29 Juli 2021

Alfiyah Ibnu Malik – 01. Muqaddimah (Bait 1 – 7)

Alfiyah Ibnu Malik – 01. Muqaddimah (Bait 1 – 7) | Pada kesempatan kali ini kami akan memulai penjelasan matn Alfiyah Ibnu Malik, yaitu sebuah nazham yang membahas tata bahasa Arab dari sisi ilmu Nahwu dan Sharf. Bagi pembaca yang ingin mengetahui lebih dalam tentang kitab ini, sejarah penulisannya, manhaj penulisnya dalam menyusun kitab ini, susunan bab-babnya, dan lain-lain silahkan berkunjung ke tulisan kami disini.

Baik, kali ini kami akan membahas tiap bait yang ada pada kitab Alfiyah Ibnu Malik, dan ini adalah tulisan pertama kami. Semoga Allah memberikan kemudahan kepada kami untuk merampungkannya dengan segera. Wallahu waliyyut taufiiq wal qaadiru ‘alayh.

Selamat membaca.

Teks Matan

مقدمة

Mukaddimah

قَـالَ مُحَمَّدٌ هُوَ ابنُ مَـالِكِ ¤ أَحْمَدُ رَبِّي اللَّهَ خَيْرَ مَالِكِ

Muhammad Ibnu Malik berkata: Aku memuji Allah Rabbku, sebaik-baiknya Dzat Yang Maha Memiliki.

__

مُصَلِّيَاً عَلَى النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى ¤ وَآلِـــهِ الْمُسْــتَكْمِلِينَ الْشَّــرَفَا

Dengan bershalawat atas Nabi terpilih dan atas keluarganya yang mencapai derajat kesempurnaan dan kemuliaan.

__

وَأَسْــتَعِيْنُ اللهَ فِي أَلْفِيَّـــهْ ¤ مَقَاصِدُ الْنَّحْوِ بِهَا مَحْوِيَّهْ

Dan aku juga memohon pertolongan kepada Allah dalam (menyusun) kitab Alfiyah, yang dengannya tercakup seluruh materi ilmu Nahwu.

__

تُقَرِّبُ الأَقْصَى بِلَفْظٍ مُوْجَزِ ¤ وَتَبْسُـطُ الْبَذْلَ بِوَعْدٍ مُنْجَزِ

Mendekatkan pengertian yang jauh dengan lafazh yang ringkas serta meluaskan pemberian dengan janji yang ditepati.

__

وَتَقْتَضِي رِضَاً بِغَيْرِ سُخْطِ ¤ فَـائِقَةً أَلْفِــــيَّةَ ابْنِ مُعْطِي

Kitab ini mudah menuntut kerelaan tanpa kemarahan, mengungguli kitab Alfiyahnya Ibnu Mu’thi.

__

وَهْوَ بِسَبْقٍ حَائِزٌ تَفْضِيْلاً ¤ مُسْـتَوْجِبٌ ثَنَائِيَ الْجَمِيْلاَ

dan beliau lebih dahulu memperoleh keutamaan, beliau berhak untuk mendapatkan sanjunganku yang indah.

__

وَاللهُ يَقْضِي بِهِبَـاتٍ وَافِرَهْ ¤ لِي وَلَهُ فِي دَرَجَاتِ الآخِرَهْ

Semoga Allah menetapkan karunianya yang luas untukku dan untuk beliau pada derajat-derajat tinggi akhirat. 

Syarah (Penjelasan)

Alfiyah Ibnu Malik, merupakan sebuah kitab manzhumah atau kitab bait nazham yang berjumlah 1.000 bait, dengan irama bahr rajaz, membahas tentang kaidah-kaidah Ilmu Nahwu dan Ilmu Sharf

Penyusun Kitab Alfiyah ini, adalah seorang pakar dalam ilmu bahasa Arab, beliau dikenal juga sebagai seorang imam yang alim yang sangat luas ilmunya. Nama lengkap beliau adalah Muhammad bin Abdullah bin Malik at-Tha’iy al-Jayyaniy. Beliau dilahirkan di salah satu kota di negeri Andalusia (sekarang: Spanyol) yang bernama Jayyan pada tahun 600 H. Kemudian beliau berpindah ke kota Damaskus dan wafat di sana pada Tahun 672 H.

Baca Juga: Biografi Ringkas Imam Ibnu Malik

Karya fenomenal beliau yang lain yang cukup terkenal adalah kitab Al-Kaafiyah Asy-Syaafiyah, terdiri dari tiga ribu bait nazham yang juga berirama bahr rajaz. Tulisan beliau yang lain dan tak kalah masyhur adalah: Nazhm Laamiyah al-Af’aal yang membahas ilmu Sharf, Tuhfatul Mauduud yang membahas permasalahan maqshuur dan mamduud. Kesemuanya itu membahas tentang ilmu tata bahasa Arab.

Beliau mengawali kitab Alfiyyah-nya ini dengan ucapan:

Bait 1:

Alfiyah Ibnu Malik - Bait 1

Pada bait ini beliau menyebutkan dirinya bernama Muhammad Ibnu Malik. Diatas telah kami turunkan nasab beliau rahimahullah secara ringkas. Jika kita perhatikan dengan jeli nama beliau sebenarnya adalah Muhammad bin Abdullah bin Malik, jadi nama ayah beliau adalah Abdullah bukan Malik, Malik adalah nama kakeknya. Para ulama menyebutkan beliau melakukan hal ini dikarenakan nama kakek beliau yaitu Malik lebih dikenal dan lebih masyhur ketika itu daripada nama ayah beliau yaitu Abdullah, hal ini hukumnya boleh, yaitu seseorang ber-intisab kepada kakek-kakeknya yang lebih masyhur dikenal tanpa menyebutkan nasab dibawahnya, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam saat terjadi peperangan Tsaqif:

أنا النبي لا كذب، أنا ابن عبد المطلب

Aku adalah seorang Nabi dan tak ada dusta, aku adalah Ibnu ‘Abdil Muthalib (HR. Al-Bukhari 2464, Muslim 1776)

Nabi shallallahu ‘alaiyhi wa sallam menyebutkan hal ini dikarenakan kakek beliau yaitu ‘Abdul Muthalib lebih masyhur dan lebih terpandang dikalangan orang arab ketika itu daripada Abdullah yang merupakan ayah beliau shallallahu ‘alayhi wa sallam. Demikian pula penulis kitab Alfiyyah ini, beliau lebih dikenal dengan panggilan Muhammad bin Malik, daripada Muhammad bin ‘Abdullah yang merupakan nama beliau yang sebenarnya.

Dalam bait ini beliau memuji Allah menggunakan lafazh أحمد (aku memuji) yang merupakan fi’il mudhari’ dari kata yang mashdar-nya الحمد (al-hamd; pujian). Kata الحمد adalah penyifatan terhadap sesuatu yang sedang dipuji dengan kesempurnaan disertai pengagungan dan kecintaan. Jadi kalau ada seseorang memuji orang lain namun tak disertai pengagungan serta kecintaan maka ini tidaklah dinamakan الحمد dalam bahasa arab, orang-orang Arab mengistilahkan pujian yang demikian dengan sebutan المدح (al-madh), yaitu pujian yang tidak disertai pengagungan juga kecintaan, seperti seseorang yang memuji raja hanya karena ingin mendapatkan hadiah dari sang raja tersebut bukan karena ia mengagungkan apalagi mencintai sang raja tersebut, maka ini tidaklah disebut dengan الحمد tapi ini adalah المدح. Wallahu a’lam

Pada bait ini pula beliau menyifati Allah subhanahu dengan sifat yang begitu mulia; خير مالك (sebaik-baiknya Dzat Yang Maha Memiliki), karena memang Dia-lah sebaik-baik dzat yang Maha Memiliki segalanya.

Setelah itu beliau melanjutkan dengan shalawat kepada Nabi:

Bait 2:

Alfiyah Ibnu Malik - Bait 2

Lafazh المصطفى asalnya adalah المصتفى, disebutkan dalam suatu kaidah bahwa apabila setelah huruf shad terdapat huruf ta’ (ت), maka huruf ta’ (ت) tersebut wajib diubah menjadi huruf tha’ (ط). Kata المصتفى itu sendiri merupakan turunan dari kata صفوة yang maknanya adalah “pilihan”. Maka, lafazh النبي المصطفى pada bait ini bermakna nabi terpilih, yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam.

Adapun lafazh المستكملين pada bait ini memiliki dua makna:

  1. Mencari kesempurnaan (طالب للكمال), karena lafazh مستكمل mengikuti wazan مستفعل yang artinya yang menuntut, meminta, mencari. Seperti lafazh مستغفر (yang mencari ampunan; yang meminta ampunan)
  2. Sangat sempurna, karena huruf sin dan ta’ yang ada pada lafazh مستكمل adalah dua huruf tambahan yang berfungsi sebagai lil mubalaghah (ungkapan superlatif)

Dua makna diatas berkaitan erat dengan harakat pada lafazh الشرفا yang ada di akhir bait ini, karena ia bisa dibaca dengan dua bacaan:

  1. “Asy-Syurafaa” dengan men-dhammah-kan huruf syin yang artinya adalah orang-orang yang mulia (jamak)
  2. “Asy-Syarafaa” dengan mem-fathah-kan huruf syin yang artinya manusia mulia (tunggal)

Jika kita membacanya dengan men-dhommah-kan huruf syin (asy-syurafaa) maka kemuliaan tersebut adalah sifat bagi keluarga beliau yang beriman radhiyallahu ‘anhum ajma’iin, namun jika kita membacanya dengan mem-fathah-kan huruf syin (asy-syarafaa) maka kemuliaan tersebut adalah sesuatu yang hendak diraih oleh mereka radhiyallahu ‘anhum, yang demikian dikarenakan tidaklah seseorang mencari suatu kesempurnaan maka dia akan memperoleh kemuliaan tersebut, dan tidak diragukan lagi mereka telah memperoleh kemuliaan tersebut, semoga Allah anugerahkan kita untuk mengikuti jalan mereka radhiyallahu ‘ahnum ajma’in.

kemudian beliau melanjutkan kembali bait Alfiyyahnya:

Bait 3:

Pada bait ini penulis rahimahullah memberikan teladan yang sangat baik kepada kita bahwa ketika hendak memulai suatu amal jangan sekali-kali kita lupa bahwa disana terdapat pertolongan Allah Ta’ala. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata:

“Barangsiapa memohon pertolongan kepada Allah, bersandar kepadaNya dan jujur tujuannya, maka pasti Allah akan menolongnya. Jika Allah saja memerintahkanmu untuk menolong orang yang meminta pertolongan kepadamu padahal engkau adalah seorang makhluk, maka sungguh Allah lebih berhak untuk menolong seorang hamba yang meminta pertolongan kepadaNya” [Syarh Alfiyyah Juz 1 hal. 34]

Sikap beliau ini benar-benar mencocoki sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam:

احرص على ما ينفعك واستعن بالله ولا تعجز

Bersemangatlah dengan sesuatu yang bermanfaat untukmu, mohonlah pertolongan kepada Allah dan jangan kamu lemah (HR. Muslim 2664)

Kenapa kitab ini dinamakan Alfiyyah?

beliau menamakan kitabnya ini dengan Alfiyyah paca ucapannya: “…dan aku juga memohon pertolongan kepada Allah (dalam menyusun) kitab Alfiyyah

Kata Alfiyyah diambil dari kata ألف yang berarti seribu, dinamakan Alfiyyah karena kitab ini tersusun dari 1.002 bait sya’ir yang berisi kaidah-kaidah penting dalam ilmu nahwu dan sharf. 

Mungkin pembaca bertanya-tanya dalam hati; “Lho, katanya Alfiyyah artinya 1.000, kenapa jumlah baitnya ada 1.002?”

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa salah satu kebiasaan yang sudah menjadi hal lumrah dikalangan orang-orang Arab adalah mereka sering membulatkan bilangan yang lebih atau kurang sedikit, jadi meskipun jumlah baitnya ada 1.002 tapi tidak masalah jika kitab ini dinamakan dengan Alfiyyah dengan alasan ‘pembulatan’ alias dibulatkan menjadi 1.000.

Lalu setelah beliau memohon pertolongan kepada Allah untuk menulis bait-bait Alfiyyah ini, beliau melanjutkan penjelasan bahwa kitab yang beliau tulis ini berisikan penjelasan lengkap terkait kaidah-kaidah dalam ilmu Nahwu. Beliau berkata:

 

 مَقَاصِدُ الْنَّحْوِ بِهَا مَحْوِيَّهْ

Kitab Alfiyyah ini mencakup penjelasan seluruh materi ilmu Nahwu.

Ungkapan diatas merupakan pujian seseorang terhadap amalnya sendiri. Beliau memuji amal beliau yaitu penulisan kitab Alfiyyah ini bukanlah dengan maksud untuk menampakkan kehebatan dan kepandaian beliau, insyaallah beliau adalah seorang ulama yang jauh dari sifat sombong. Pujian beliau terhadap kitabnya ini merupakan bentuk informasi bahwa kitab beliau ini sangat layak untuk dipelajari oleh para penuntut ilmu yang ingin mendalami kaidah bahasa Arab terutama kaidah dalam ilmu Nahwu. Semoga Allah membalas kebaikan beliau dan usaha keras beliau dalam menyebarkan ilmu yang mulia ini.

Bait 4:

Alfiyah Ibnu Malik - Bait 4

Pada bait keempat ini beliau menyifati kitabnya dengan empat sifat:

1. Mendekatkan yang jauh,
2. Lafazhnya ringkas
3. Pemberian yang luas
4. Janji yang ditepati

Maksudnya adalah kitab Alfiyyah ini mengumpulkan kaidah-kaidah Nahwu yang berserakan di kitab-kitab ulama menjadi sesuatu yang runut, sehingga yang awalnya terasa jauh dan sulit untuk digapai menjadi dekat hingga mudah untuk dipelajari. Beliau mengumulkan ‘sesuatu’ yang berserakan ini tidaklah membutuhkan ungkapan panjang yang membosankan para pembacanya, namun beliau gunakan ungkapan yang “muujaz” (ringkas), hal ini juga menunjukkan kepada kita akan kedalaman ilmu dan luasnya pengetahuan beliau -rahimahullah-.

Biasanya suatu ungkapan yang ringkas akan memberikan faidah yang sedikit, sebagaimana tatkala kita memiliki wadah yang berisikan koin-koin. Jika wadah tersebut ukrannya kecil maka koin yang ada didalamnya juga tentu jumlahnya akan sedikit, sebaliknya jika wadahnya besar maka ia akan dapat menampung koin dalam jumlah banyak. Nah, supaya tidak difahami demikian maka beliau menjelaskan di potongan bait berikutnya:

 

 وَتَبْسُـطُ الْبَذْلَ بِوَعْدٍ مُنْجَزِ

Meluaskan pemberian dengan janji yang disegerakan. 

Meskipun lafazh yang digunakan adalah lafazh yang ringkas, namun lafazh tersebut dapat meluaskan pemberian, maksudnya adalah faidah dan informasi yang diberikan melalui lafazh yang ringkas tersebut adalah pemberian yang luas atau banyak. Kemudian beliau memberikan penjelasan bahwa pemberian yang luas ini adalah janji yang disegerakan untuk ditepati, tanpa diundur-undur atau diakhirkan. Karena kalimat “bi wa’din munjaz” artinya adalah janji pemberian yang disegerakan untuk ditunaikan tanpa diundur atau diakhirkan.

Bait 5:

Alfiyah Ibnu Malik - Bait 5

Pada bait ini beliau juga menjelaskan tentang kitab Alfiyyah yang beliau susun ini, bahwa ia dapat mengundang keridhaan/kerelaan pembacanya tanpa disertai dengan kemarahan. Ini menunjukkan bahwa ridha yang dimaksud oleh penulis adalah ridha yang sempurna. Karena terkadang seseorang sudah ridha tapi masih ada sedikit perasaan jengkel atau marah dalam hatinya yang dapat mengurangi kesempurnaan ridha tersebut. Namun tatkala keridhaan/kerelaan hati tanpa disertai perasaan jengkel atau marah maka ini merupakaan keridhaan yang sempurna.

Kemudian lagi-lagi beliau memuji Alfiyyah yang beliau tulis ini dengan menyebutkan bahwa Alfiyyah yang beliau tulis ini mengungguli Alfiyyah yang ditulis oleh Ibnu Mu’thi. Ibnu Mu’thi adalah salah seorang ulama yang wafat pada tahun 672 H dan memiliki tulisan yang beliau namakan juga dengan Alfiyyah. Nama lengkap beliau adalah Yahya bin ‘Abdul Mu’thi bin ‘Abdun Nuur Az-Zawaawiy, beliau dikenal sebagai seorang yang alim dalam bidang bahasa Arab dan sastra Arab pada zamannya.

Setidaknya ada dua keunggulan Alfiyyah Ibnu Malik daripada Alfiyyah Ibnu Mu’thi:

Pertama: Alfiyyah yang disusun oleh Imam Ibnu Malik -rahimahullah- ditulis dengan satu irama bahr, yaitu bahr rajaz. Sementara Alfiyyah yang disusun oleh Imam Ibnu Mu’thi ditulis tidak dengan satu irama bahr.

Kedua: Pembahasan kaidah ilmu Nahwu yang ada dalam Alfiyyah Ibnu Malik lebih luas daripada pembahasan Alfiyyah Ibnu Mu’thi.

Sehingga merupakan hal yang wajar jika Imam Ibnu Malik mengklaim bahwa Alfiyyah-nya lebih unggul dari Alfiyyah Ibnu Mu’thi, namun untuk melakukan hal ini tentunya kembali kepada hati. Jika hal ini dilakukan oleh seseorang sebagai bentuk nasihat kepada para penuntut ilmumaka hal ini merupakan suatu kebaikan dan bukanlah sebagai bentuk hasad. Namun jika hal ini dilakukan sebagai ekspesi hasad dan menghalangi manusia dari membaca karya orang lain tentunya hal ini merupakan perbuatan yang tercela. Tentunya kita berhusnuzhan kepada Imam Ibnu Malik -rahimahullah- bahwa ungkapan beliau diatas merupakan nasihat tulus beliau kepada para penunutut ilmu.

Ada satu kisah yang kami dapatkan dari beberapa literatur namun tanpa menyertakan sanad dan hingga saat ini kami belum menemukan sumber valid kisah tersebut. Dikisahkan saat Imam Ibnu Malik -rahimahullah- sedang menyusun kitab Alfiyyah ini hafalan beliau tiba-tiba kacau, beliau tidak dapat mengingat satu huruf pun hingga penulisan kitab ini terhenti selama berhari-hari. Hingga suatu hari beliau berziarah ke makam Imam Ibnu Mu’thi -rahimahullah-, lalu mendoakan kebaikan untuk Imam Ibnu Mu’thi -rahimahullah-.

Saat khusyuk berdoa beliau tertidur, dan di dalam tidurnya beliau bermimpi bertemu dengan Imam Ibnu Mu’thi yang menegurnya bahwa apa yang Imam Ibnu Malik lakukan pada saat menyusun kitab Alfiyyah ini, terdapat suatu kesalahan. Imam Ibnu Mu’thi berkata “Wahai muridku apakah kamu lupa siapakah aku ini?” Beliau pun terbangun dari keterjagaannya dan masih dalam kebingungan serta terkejut, beliau teringat akan sebuah bait kelima yang beliau tulis dalam kitab Alfiyyah. “Ya di situlah akar permasalahanya,” pikir beliau.

Di dalam nazam terakhir yang beliau tulis, beliau menyebutkan bahwa kitab Alfiyyah yang beliau susun adalah lebih mengungguli dari kitab Alfiyyah yang disusun terlebih dahulu oleh guru beliau yakni Imam Ibnu Mu’thi -rahimahullah-. Hal ini sangat bertentangan dengan akhlakul karimah, tata krama yang seharusnya dilakukan oleh seorang murid kepada gurunya.

Selanjutnya untuk menebus kesalahan dan sebagai rasa permintaan maaf dan ampunan dari Allah subhanahu wa ta’ala, maka beliau pun menyusun dua bait berikutnya:

Bait 6:

Bait 7:

Alfiyah Ibnu Malik - Bait 7

Setelah beliau menyusun dua bait di atas yang menjadi ungkapan hati beliau, maka dengan izin Allah semua susunan 1000 bait yang semula hilang dari ingatan memori beliau seketika itu pula kembali lagi dan Imam Ibnu Malik dapat meneruskan penyusunan kitab Alfiyyahnya.

Dari uraian cerita di atas, dapat diketahui yang semula nazham Alfiyyah Ibnu Malik berjumlah 1000 bait, bertambah dua bait pada bab Muqaddimah sehingga menjadi 1002 bait. Namun sekali lagi kisah ini kami dapatkan dari beberapa sumber tanpa menyertakan sanad, sehingga tidak bisa kami pastikan kevalidannya. Wallahu a’lam bis shawab.

Di bait keenam beliau memuji Imam Ibnu Mu’thi -rahimahullah-, disebutkan bahwa Imam Ibnu Mu’thi lebih utama dari sisi “sabq” (lebih dahulu), tentunya orang yang lebih dahulu melakukan kebaikan dan mencontohkannya kepada orang lain memiliki keutamaan lebih dari orang yang mengikutinya, berdasarkan sebuah hadits:

من دل على خير فله مثل أجر فاعله

“Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang mnelakukannya.” (HR. Muslim 1893)

Dan di bait ketujuh beliau berdoa kepada Allah agar beliau dan Imam Ibnu Mu’thi diberikan karunia yang luas berupa derajat yang tinggi di akhirat. Amiiin

Demikian penjelasan ringkas bait 1 – 7 dari kitab Alfiyyah Ibnu Malik, semoga bermanfaat untuk pembaca sekalian dan semoga Allah berikan kemudahan kepada kami untuk menyelesaikan penjelasan dari kitab Alfiyyah Ibnu Malik ini.

_____

Selesai ditulis di hari Ahad pagi yang cerah, 4 Syawwal 1442 H | 16 Mei 2021 pukul 18.56 WIB di Perum Graha Prima, Tambun.

Akhukum Heri Suheri

Tentang Heri Suheri

Founder Qothrunnadaa Learning Centre. Alumni Ma'had Ihyaa Assunnah Tasikmalaya jurusan TBA (Takhassus Bahasa Arab) tahun 2009 dan Ma'had 'Aly Assunnah Medan (sekarang STAI As-Sunnah) tahun 2012. Berpengalaman lebih dari sepuluh tahun mengajar bahasa Arab bagi pembelajar pemula. Semoga Allah mengampuninya dan mengampuni kedua orang tuanya. Amiin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.