Jumat , 27 November 2020

Adab-Adab dalam Membaca Al-Qur’an

Sedikit kami sebutkan beberapa adab terhadap Al-Quran agar interaksi kita dengan Al-Qur’an mendapatkan kebaikan dan keberkahan dari Allah subhanahu wata’ala,
berikut adab-adab dalam membaca Al-Qur’an :

1. Niat Ikhlas karena Allah

Niat secara makna adalah keinginan hati untuk melakukan suatu amalan, niat merupakan perkara yang sangat penting dalam agama islam, bahkan Rasulullah  shallallahu’alaihi wasallam telah mewasiatkan kepada umatnya bahwa nilai atas Segala amal perbuatan itu didasarkan pada niatnya, seseorang mendapatkan buah (hasil) dari amalannya sesuai dengan niat yang didalam hatinya,didalam sebuah hadist yang masyhur, yang disampaikan oleh sahabat Umar Bin Khatab radhiyallahua’nhu, bahwa Nabi shallallahua’laihi wasallam pernah bersabda : 

ٍعَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits)

Hendaklah kita membaca Al-Qur’an berniat ikhlas, mengharapkan ridha Allah, bukan berniat ingin cari dunia atau cari pujian.

2. Suci dari Hadats Besar dan Hadats Kecil

Para ulama berbeda pendapat mengenai hal ini, apakah ia termasuk kewajiban atau merupakan sunnah Rasulullah  shallallahu’alaihi wasallam namun, seluruh ulama empat madzhab sepakat berpendapat bahwa orang yang berhadast (hadast besar atau hadast kecil) tidak diperbolehkan menyentuh mushaf baik seluruhnya maupun sebagiannya, dalil yang diambil dari perkara ini adalah firman allah subahanahu wata’ala sebagai berikut :

لَّا يَمَسُّهُۥٓ إِلَّا ٱلْمُطَهَّرُونَ

tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan” (QS. Al-Waqi’ah : 79)

Dalil tersebut kemudian diperkuat oleh sabda Rosullah shalallahu‘alaihi wassalam :

لاَ تَمُسُّ القُرْآن إِلاَّ وَأَنْتَ طَاهِرٌ

“Tidak boleh menyentuh Al Qur’an kecuali engkau dalam keadaan suci.”

3. Memilih Waktu dan Tempat yang Cocok

Membaca Al-Qur’an dibolehkan kapan pun kita mau. Akan tetapi ada adab-adabnya serta waktu – waktu yang harus diperhatikan oleh kita karena lebih diharapkan untuk mendapatkan rahmat dari Allah subhanahu wata’ala.
Kita bisa ibaratkan bagaimana kalau kita hendak bertamu ke rumah seseorang akan tetapi kita bertamu disaat yang kurang tepat, seperti dini hari misalnya. Atau kita bertamu dengan seseorang akan tetapi tapi ketemuannya di toilet misalnya. hal tersebut tentu saja tidak sopan dan tidak etis sama sekali. Kemudian seperti apa waktu dan tempat yang tepat untuk membaca Al-Qur’an?

Berikut merupakan Waktu-Waktu yang paling utama untuk membaca Al-Qur’an :

  1. ketika sedang sholat (setelah membaca surat Al-Fatihah)
  2. pada sepertiga malam terakhir
  3. membaca pada malam hari,  lalu sewaktu fajar
  4. ketika waktu subuh
  5. pada waktu-waktu siang, setelah jam makan siang kantor misalnya.

Begitu juga sangat disukai jika membaca Al-Qur’an di tempat yang bersih dan tidak terlalu kotor, jauh dari hal-hal yang bisa mengganggu kekhusukan dalam membaca Al-Qur’an.
Dan sebaik-baik tempat membaca Al-Qur’an adalah tempat ibadah (masjid),  sebagaimana dikatakan Imam an-Nawawi. Karena selain bersih, masjid merupakan juga tempat paling mulia di atas muka bumi ini.

4. Menghadap kiblat

dalam membaca Al-Qur’an hendaknya kita untuk menghadap kearah kiblat dan duduk dengan sakinah dan penuh ketenangan agar bacon Al-Qur’an kita menjadi lebih bermakna dan berpahala disini Allah subhanahu wata’ala.

5. Bersiwak

6. Membaca ta’awwudz

Isti’adzah atau dikenal dengan istilah ta’awwudz artinya adalah memohon perlindungan. Maksudnya adalah mengucapkan: 

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

sebelum membaca Al-Qur’an. Baik itu pada awal surat atau tengah surat, didalam sholat atau diluar sholat. Allah subahanahu wata’ala berfirman : 

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“Apabila kamu hendak membaca Al-Quran, maka mintalah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.”
[QS. An-Nahl : 98]

7. Membaca Basmalah

Para ulama berbeda pendapat mengenai status “basmalah”. Apakah iatermasuk dalam ayat pada surat Al-Fatihah atau bukan. Dalam hal ini ada tiga pendapat : 

1) Basmalah bukan merupakan bagian dari Al-Quran kecuali ayat ke-30 pada surah An-Naml

 Ini pendapat Al-Imam Malik dan sekelompok ulama Hanafiyah. Kemudian dinukilkan oleh sebagian pengikut Al-Imam Ahmad dalam sebuah riwayat yang berasal dari beliau bahwa ini madzhab beliau.

2) Basmalah merupakan ayat dari setiap surah atau sebagian surat

Ini madzhab Al-Imam Syafi’i dan yang mengikuti beliau. Akan tetapi, dalam sebuah penukilan dari beliau disebutkan bahwa basmalah bukan ayat di permulaan setiap surah kecuali Al-Fatihah,
sedangkan surah lain hanyalah dibuka dengan basmalah untuk tabarruk (mencari berkah).

3) Basmalah merupakan bagian dari Al-Quran, namun dia bukan termasuk bagian surah,
akan tetapi ayat yang berdiri sendiri dan dibaca di awal

 Setiap surah Al-Qur’an kecuali surah At-Taubah, sebagaimana Nabi membacanya ketika diturunkan kepada beliau surah Al-Kautsar seperti yang diriwayatkan Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya.
Ini merupakan pendapat Al-Imam Abdullah ibnul Mubarak, Al-Imam Ahmad, dan Abu Bakr ar-Razi -beliau menyebutkan bahwa inilah yang diinginkan oleh madzhab Abu Hanifah

8. Membaca dengan tartil

Allah subhanahu wata’ala memerintahkan kita agar kita membaca al-Quran dengan tartil,
sebagaimana Allah subhanahu wata’ala berfirman : 

أَوْزِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلً

atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan.
[QS. Al-Muzammil 73:4]

9. Memperindah suara dan bacaan Al-Quran

Dari Abu Lubababh Basyir bin ‘Abdul Mundzir radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ

Barangsiapa yang tidak memperindah suaranya ketika membaca Al Qur’an, maka ia bukan dari golongan kami.
(HR. Abu Daud no. 1469 dan Ahmad 1: 175. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Kata Imam Nawawi bahwa Imam Syafi’i dan ulama Syafi’iyah juga kebanyakan ulama memaknakan ‘yataghonna bil Qur’an’ adalah,

يُحَسِّن صَوْته بِهِ

“Memperindah suara ketika membaca Al Quran.”

     Sedangkan menurut pendapat Sufyan bin ‘Uyainah yang dimaksud adalah mencukupkan diri dengan Al Qur’an. Ada pula yang mengatakan, yang dimaksud adalah mencukupkan Al Qur’an dari manusia. Ada pendapat lain pula yang menyatakan, mencukupkan diri dengan Al Qur’an dari hadits dan berbagai kitab lainnya, Al Qadhi ‘Iyadh menyatakan bahwa sebenarnya ada dua pendapat yang dinukil dari Ibnu ‘Uyainah.

Adapun ulama madzhab syafi’i dan yang sependapat dengannya menyatakan bahwa yang dimaksud adalah memperindah dan memperbagus bacaan Al Qur’an. Ulama Syafi’iyah berdalil dengan hadits lainnya,

زَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ

Baguskanlah suara bacaan Al Qur’an kalian.
(HR. Abu Daud no. 1468 dan An Nasai no. 1016. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Al Harawi menyatakan bahwa yang dimaksud dengan “yataghonna bil Quran” adalah menjaherkan (mengeraskan) bacaannya.

Abu Ja’far Ath Thobari sendiri mengingkari pendapat yang menyatakan bahwa yang dimaksud yataghonna bil Qur’an adalah mencukupkan diri. Ath Thobari tidak menyetujuinya karena bertentangan dengan makna bahasa dan maknanya itu sendiri.

Ada perbedaan pula dalam pemaknaan hadits lainnya, “Barangsiapa yang tidak memperindah suaranya ketika membaca Al Qur’an, maka ia bukan dari golongan kami.” Pendapat yang lebih kuat, yang dimaksud “yataghonna bil Qur’an” adalah membaguskan suara bacaan Al Qur’an. Riwayat lain menguatkan maksud tersebut, “yataghonna bil qur’an” adalah mengeraskannya.” (Lihat Syarh Shahih Muslim, 6: 71).

  • Al Harawi menyatakan pendapat bahwa yang dimaksud dengan “yataghonna bil Quran” adalah menjaherkan (mengeraskan) bacaannya.

    Abu Ja’far Ath Thobari sendiri mengingkari pendapat yang menyatakan bahwa yang dimaksud yataghonna bil Qur’an adalah mencukupkan diri. Ath Thobari tidak menyetujuinya karena bertentangan dengan makna bahasa dan maknanya itu sendiri.

    Ada perbedaan pula dalam pemaknaan hadits lainnya, “Barangsiapa yang tidak memperindah suaranya ketika membaca Al Qur’an, maka ia bukan dari golongan kami.” Pendapat yang lebih kuat, yang dimaksud “yataghonna bil Qur’an” adalah membaguskan suara bacaan Al Qur’an. Riwayat lain menguatkan maksud tersebut yaitu, “yataghonna bil qur’an” adalah mengeraskannya.” (Lihat Syarh Shahih Muslim, 6: 71).

    Adapun yang dimaksud dengan tidak termasuk golongan kami orang yang tidak memperindah bacaan Al Qur’an adalah ditafsirkan dengan dua makna:

    Bukan termasuk golongan kami, orang yang tidak membaguskan bacaan Al Qur’an
    Bukan termasuk golongan kami, orang yang tidak mencukupkan dengan Al Qur’an dari selainnya. (‘Aunul Ma’bud, 4: 271).
    Kalau kita lihat dari pendapat yang dikuatkan oleh Imam Nawawi sebelumnya, yang dimaksud adalah tidak termasuk golongan kami, orang yang tidak membaguskan bacaan Al Qur’an.

    Namun aturan dalam melagukan dalam membaca Al Qur’an harus memenuhi syarat berikut:

    Tidak dilagukan dengan keluar dari kaedah dan aturan tajwid.
    Huruf yang dibaca tetap harus jelas sesuai yang diperintahkan.
    Tidak boleh serupa dengan lagu-lagu yang biasa dinyanyikan. (Lihat Bahjatun Nazhirin, 1: 472)

10. Tadabbur, khusyu’, dan menangis

Membaca Al-Qur’an dengan khusyu’, dengan menangis, karena sentuhan pengaruh ayat yang dibaca bisa menyentuh jiwa dan perasaan.

     Allah subhanahu waa’ala telah menyebutkan sebagian dari sifat hamba-hambanya yang shalih,
sebagaimana Allah subahanahu wata’ala berfirman : 

وَيَخِرُّونَ لِلأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا

Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.
[QS. Al-Israa 17:109] 

11. Mengeraskan bacaan bila tidak mengganggu orang lain

     Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menemui beberapa orang yang sedang shalat di bulan Ramadhan dan mereka mengeraskan bacaannya. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata pada mereka,

أَيُّهَا النَّاسُ كُلُّكُمْ يُنَاجِي رَبَّهُ فَلَا يَجْهَرْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الْقِرَاءَةِ

     “Wahai sekalian manusia. Kalian semua sedang bermunajat (berbisik-bisik) dengan Rabbnya. Oleh karena itu, janganlah di antara kalian mengeraskan suara kalian ketika membaca Al Qur’an sehingga menyakiti saudaranya yang lain.

Beliau rahimahullah mengatakan, “Dari sini tidak boleh bagi seorang pun mengeraskan bacaan Al Qur’an-nya sehingga menyakiti saudaranya yang lain seperti menyakiti saudara-saudaranya yang sedang shalat.” (Lihat Majmu’ Al Fatawa, 23/64)

12. Mewaqafkan bacaan pada setiap akhir ayat,

Disunnahkan bagi para pembaca Al-Quran untuk berhenti pada setiap akhir ayat, walaupun ayat tersebut merupakan ayat-ayat yang pendek

13. Tidak membaca sewaktu mengantuk

 Kita dianjurkan sebanyak mungkin dan sesering mungkin untuk membaca al-Quran. Siang maupun malam
     namun ada yang perlu diperhatkan yaitu “jangan membaca Al-Qur’an ketika sedang mengantuk”, kenapa hal tersebut di larang?, karena ketika kita membaca al-qur’an sedang kita berada dalam posisi mengantuk maka di khawatirkan bacaan al-qur’an kita akan ngelantur saat membacanya dan akhirnya bacaan tersebut menjadi salah, maka dampaknya adalah kesalahan arti dan makna dalam membaca al-quran sangat mungkin terjadi.

14. Sujud tilawah setelah membaca ayat sajdah

Sujud tilawah adalah sujud yang disebabkan karena membaca atau mendengar ayat-ayat sajadah yang terdapat dalam Al Qur’an Al-Karim.

Para ulama sepakat (beijma’) bahwa sujud tilawah adalah amalan yang disyari’atkan.
Di antara dalilnya adalah hadits Ibnu ‘Umar : 

كَانَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ فَيَقْرَأُ سُورَةً فِيهَا سَجْدَةٌ فَيَسْجُدُ وَنَسْجُدُ مَعَهُ حَتَّى مَا يَجِدُ بَعْضُنَا مَوْضِعًا لِمَكَانِ جَبْهَتِهِ

Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam pernah membaca Al Qur’an yang di dalamnya terdapat ayat sajadah. Kemudian ketika itu beliau bersujud, kami pun ikut bersujud bersamanya sampai-sampai di antara kami tidak mendapati tempat karena posisi dahinya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Sujud Tilawah memiliki keutamaan yang sangat besar sebagaimana Rosulllah Shallahu’alaihi Wassalam telah mengabarkan di dalam hadistnya

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺇِﺫَﺍ ﻗَﺮَﺃَ ﺍﺑْﻦُ ﺁﺩَﻡَ ﺍﻟﺴَّﺠْﺪَﺓَ ﻓَﺴَﺠَﺪَ ﺍﻋْﺘَﺰَﻝَ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥُ ﻳَﺒْﻜِﻰ ﻳَﻘُﻮﻝُ ﻳَﺎ ﻭَﻳْﻠَﻪُ  ﺃُﻣِﺮَ ﺍﺑْﻦُ ﺁﺩَﻡَ ﺑِﺎﻟﺴُّﺠُﻮﺩِ ﻓَﺴَﺠَﺪَ ﻓَﻠَﻪُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔُ ﻭَﺃُﻣِﺮْﺕُ ﺑِﺎﻟﺴُّﺠُﻮﺩِ ﻓَﺄَﺑَﻴْﺖُ ﻓَﻠِﻰَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭُ

“Jika anak Adam membaca ayat sajadah, lalu dia sujud, maka setan akan menjauhinya sambil menangis. Setan pun akan berkata-kata: “Celaka aku. Anak Adam disuruh sujud, dia pun bersujud, maka baginya surga. Sedangkan aku sendiri diperintahkan untuk sujud, namun aku enggan, sehingga aku pantas mendapatkan neraka.”
(HR. Muslim no. 81)

Tentang Dimas Shandy

Alumnus Ma'had Nurussalam dan Alumni SMA Multi Istiqlal. Founder & CEO Pusatilmupengetahuan.com, Saintek.id, Pusilpen.onlineSemoga Allah mengampuninya dan mengampuni kedua orang tuanya. Amiin..

Baca Juga Artikel Berikut

Keutamaan Mempelajari dan Mengajarkan Al-Qur’an

Al-Qur’an adalah kalamullah yang allah turunkan kepada Rosullah shallahu’alaihi wassalam sebagai petunjuk seluruh umat manusia …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.